klikdokter.com
Selasa, 29 Juli 2014

Salpingitis butuh laparoskopi?

Dok, saya menikah oktober 2007, kemudian saya langsung hamil, namun waktu akhir desember 2008 saya mengalami pendarahan. Waktu saya periksa ke dokter, menurut dokter kandungan baik-baik saja dan saya disuruh untuk kontrol 2 minggu kemudian. Setelah 2 minggu waktu saya kontrol dokter mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat ada detak jantung pada janin saya. Dia menyarankan untuk kontrol 2 minggu lagi untuk melihat perkembangannya, namun jika dalam 2 minggu itu saya mengalami pendarahan lagi berarti janin tidak bisa diselamatkan. 2 minggu kemudian saya kontrol ke dokter lain, dan saya ceritakan permasalahan saya tersebut. Setelah diperiksa dokter mengatakan kalau detak jantung ada namun kecil sekali. Seminggu kemudian muncul bercak2 dan darah. Yang kemudian akhirnya menyebabkan saya harus menjalankan kuret pada awal februari 2008. Setelah dikuret saya dilarang untuk hamil dulu selama 3 bulan. Kemudian saya kembali merencanakan program kehamilan, namun sampai sekarang belum berhasil. Setelah beberapa bulan saya kontrol ke dokter, kemudian dokter menyarankan saya untuk menjalani pemeriksaan HSG. Dari hasil pemeriksaan tersebut adalah : Uterus : besar bentuk normal, tidak tampak filling defect. Tuba kiri kanan : pars isthmica kiri kanan tampak divertikel kecil multiple. Kontras di tuba kanan mengisi sampai pars ampullaris dan masih spill ke intra peritoneal. Kontras di tuba kiri hanya mengisi sampai pars isthmica, tidak masuk ke ruang intra peritoneal. Post Evakuasi : sebagian kontras tertahan dalam pars ampullaris tuba kanan, sebagian kontras tersebar rata dalam rongga pelvis. RO : Salphyngitis isthmica nodosa kiri kanan dengan stenosis tuba kanan dan obstruksi tuba kiri. Uterus anatomic baik. Kemudian dokter mengatakan bahwa saluran tuba kiri saya tersumbat, dan saya dianjurkan untuk melakukan laparaskopi operatif (diteropong dan langsung diambil tindakan medis untuk pengobatannya). Terus terang saya tidak sanggup karena setelah saya tanyakan biayanya mencapai 23 juta. Jika hanya melakukan laparaskopi diagnostik (hanya diteropong saja tanpa ada tindakan medis) biayanya pun mencapai 10 juta. Yang ingin saya tanyakan apakah ada cara lain selain dengan melakukan laparaskopi? Kemudian apa penyebab saluran tuba kiri saya tersumbat? Apakah dengan menjalanin kuret dapat menyebabkan hal tersebut, sebab banyak orang mengatakan hal tersebut bisa terjadi karena infeksi setelah melakukan kuret. Dokter sempat mengatakan karena waktu itu saya pernah hamil, maka kemungkinan bisa hamil masih ada dengan berharap pada tuba kanan. Apakah hal tersebut benar? Dok, pengobatan apa yang sebaiknya saya lakukan? Jujur saja saya bingung sekali. Sedangkan untuk menjalankan laparaskopi diagnostik dan operatif saya tidak sanggup karena tidak punya biaya sebesar itu. Mohon bantuan dan saran dari dokter. Terima kasih ( perempuan, 30 thn,160 cm,70 Kg)



Ibu / saudari yang terhormat,

Terima kasih telah menggunakan layanan ekonsultasi klikdokter. Salphingitis atau peradangan pada saluran tuba dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah tindakan medis sebelumnya, mioma,  dan pada umumnya adalah infeksi. Tindakan medis dalam hal ini adalah operasi pada daerah abdomen (perut) dan pangul.

Tindakan kuretase hanya dilakukan pada daerah rahim dan tidak mencapai saluran tuba sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk menyebabkan peradangan pada saluran tuba. Infeksi akibat dari kuretase memang ada kemungkinannya dimana infeksi tersebut menyebar ke saluran tuba. Namun hal itu hanya terjadi apabila kuretase berlangsung kurang steril. Salah satu infeksi yang cukup sering disebabkan karena kuman TBC.

Untuk membuka saluran tuba memang sebaiknya dilakukan dengan laparoskopi. Untuk kemajuan ilmu teknologi saat ini, laparoskopi adalah tindakan terbaik. Namun seperti yang dikatakan oleh dokter anda, tuba kanan anda masih baik dan sel telur masih dapat keluar dari indung telur bagian kanan. Sel telur keluar bergantian kanan dan kiri, jadi apabila kiri tersumbat maka masih ada harapan bahwa sel telur bagian kanan bisa dibuahi.

Opini saya sama dengan dokter anda. Apabila anda ingin mencari second opinion, anda dapat berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan yang lain. Sekian, semoga membantu. (TRH)

Terima kasih.

(Tim Redaksi Klikdokter)



 
Artikel Terkait
Artikel Terkait

JOIN MILIS

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Konsil Kedokteran Indonesia Departemen Kesehatan ILUNI FKGUI ILUNI FKUI Ikatan Dokter Indonesia Fiaksi Indonesia
Must Read close
Nyeri perut bawah saat hamil
Susunan gigi tidak rata
Sariawan di kemaluan