Sukses

Cara Mengatasi Sariawan pada Anak

Sariawan tidak hanya diderita oleh orang dewasa, tetapi juga terjadi pada anak-anak.

KlikDokter.com - Sariawan merupakan salah satu bentuk infeksi yang sering dialami oleh anak dan dapat menyebabkan ia tidak mau makan. Sariawan dapat timbul pada tenggorokan, lidah, dan bagian dalam mulut. Untuk mengatasinya, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu faktor apakah yang menjadi penyebab timbulnya sariawan pada anak. Berikut ini di antaranya:

  1. Infeksi jamur

 Selain pada mulut, infeksi jamur juga dapat bermanifestasi sebagai ruam popok dan infeksi pada alat kelamin. Beberapa hal yang membuat anak rentan mengalami sariawan akibat infeksi jamur, antara lain:

  • Sistem imun tubuhnya belum berkembang dengan baik. Infeksi jamur sering dialami anak yang berusia di bawah 1 tahun. Bisa juga karena sistem imun tubuh sedang lemah akibat menderita penyakit
  • Sedang dalam pengobatan kemoterapi atau antibiotik dalam waktu yang lama
  1. Selain infeksi jamur, sariawan juga dapat disebabkan oleh trauma seperti tergigit atau bentuk dan letak gigi yang tidak normal sehingga melukai dinding mulut
  2. Infeksi virus seperti virus herpes simpleks, penyakit kaki tangan dan mulut, atau campak juga dapat menimbulkan keluhan sariawan pada anak.
  3. Infeksi atau abses gigi

Lalu apa yang dapat dilakukan jika anak mengalami sariawan? Halaman selanjutnya penjelasan selengkapnya.

1 dari 2 halaman

Cara Mengatasi Sariawan pada Anak

Bayi Sehat Milna

Apabila anak mengalami sariawan pada mulutnya, segera konsultasikan kepada dokter anak. Sementara itu, Anda dapat melakukan beberapa kiat berikut di rumah:

  • Berikan cukup air minum
  • Hindari makanan yang asin, asam, atau pedas agar sariawan tidak semakin nyeri

Penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan faktor manakah yang menjadi penyebab sariawan. Bila perlu, dokter akan meresepkan obat anti jamur yang dioleskan pada sariawan tersebut. Jika sariawan pada anak terjadi berulang kali, dan jika anak berusia lebih dari 12 bulan, maka diperlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis anak mengenai kemungkinan masalah kesehatan lainnya.

0 Komentar

Belum ada komentar