Masalah Mata

Scleritis

Tim Medis Klikdokter, 06 Agu 2019

Ditinjau Oleh

Scleritis merupakan suatu kondisi di mana terjadi peradangan atau inflamasi pada bagian sklera dari mata.

Pengertian

Scleritis merupakan suatu kondisi di mana terjadi peradangan atau inflamasi pada bagian sklera dari mata. Sklera adalah bagian putih dari mata dan bagian ini berfungsi sebagai lapisan luar yang melindungi mata. Sklera merupakan penyusun terbesar permukaan mata, sekitar 83 persen permukaan mata terbentuk dari sklera.

Penyakit Scleritis (ARZTSAMUI/Shutterstock)

Penyebab

Scleritis merupakan penyakit peradangan yang kronik yang sering kali terasa nyeri. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kebutaan, sehingga perlu ditangani dengan serius. Keadaan ini bisa berkaitan dengan masalah pada mata saja, namun sering kali disebabkan oleh penyakit autoimun sistemik.

Scleritis juga bisa disebabkan karena adanya trauma pada mata. Pada kasus yang jarang, penyakit ini juga bisa disebabkan karena infeksi oleh jamur atau parasit. Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan kemunculan scleritis adalah:

  • beberapa bentuk arthritis yang berkaitan dengan peradangan
  • infeksi pada mata
  • lupus
  • beberapa penyakit jaringan ikat
  • Inflammatory Bowel Disease (IBD)
  • Sjogren’s syndrome
  • Wegener’s granulomatosis
  • skleroderma

Diagnosis

Keadaan scleritis membutuhkan evaluasi menyeluruh. Dokter akan melakukan wawancara mendetail untuk mengetahui tanda dan gejala yang dirasakan penderitanya. Selain itu juga akan diperlukan pemeriksaan mata menyeluruh. Pemeriksaan mata akan dilakukan menggunakan slit lamp, untuk memeriksa bagian dalam dan luar mata.

Selain wawancara medis dan pemeriksaan mata, dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang. Misalnya pemeriksaan laboratorium atau pencitraan untuk membantu menentukan penyebab dari skleritis, terutama apabila terdapat dugaan adanya penyakit sistemik yang mendasari.

Gejala

Terdapat dua bentuk scleritis, yaitu anterior dan posterior. Anterior scleritis berdampak pada bagian depan dari sklera. Anterior scleritis terdiri dari tiga tipe keadaan, yaitu:

  • Diffuse scleritis: merupakan tipe yang paling umum ditemui. Keadaan ini menyebabkan kemerahan dan peradangan pada seluruh atau sebagian dari bagian depan sclera.
  • Nodular scleritis: ditandai dengan munculnya nodul atau benjolan pada permukaan mata yang dapat menimbulkan nyeri pada perabaan.
  • Necrotizing scleritis: merupakan bentuk paling parah dari anterior scleritis. Pada keadaan ini dapat terjadi kerusakan dari jaringan sklera mata. Tipe ini ditandai dengan nyeri hebat, walaupun pada keadaan jarang dapat muncul tanpa disertai nyeri.

Posterior scleritis lebih jarang terjadi. Scleritis jenis ini memengaruhi bagian belakang mata dan sering kali tidak berkaitan dengan penyakit sistemik. Posterior scleritis dapat muncul dengan sendirinya atau bersamaan dengan anterior scleritis. Biasanya, gejala yang dirasakan adalah nyeri atau nyeri pada perabaan.

Gejala utama yang sering kali muncul pada seseorang dengan scleritis adalah kemerahan. Selain itu kerap timbul rasa nyeri. Karakteristik nyeri yang dirasakan adalah nyeri hebat yang bisa menjalar hingga dahi, alis, rahang, atau sinus; dapat membuat terbangun saat malam hari; nyeri bertambah hebat pada sentuhan; hanya menghilang sementara jika diberikan obat anti-nyeri.

Tanda lain yang biasanya dirasakan adalah keluar air mata, fotofobia, gangguan penglihatan seperti penglihatan buram. Scleritis dapat disertai beberapa komplikasi, seperti retinal detachment (ablasi retina), keratitis, iritis, uveitis, katarak, kelainan pada fundus (disk edema, macular edema, masa subretina)  atau glaukoma sudut tertutup.

Pengobatan

Scleritis bukan merupakan keadaan sepele, dan jika tidak ditangani dapat berpotensi menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, penanganan tepat sesegera mungkin sangat penting untuk dilakukan.

Jenis pengobatan yang diberikan dapat bervariasi, tergantung dari jenis scleritis yang diderita. Sering kali, dibutuhkan terapi sistemik untuk membantu mengatasi keadaan ini. Terapi sistemik yang mungkin dipertimbangkan antara lain kortikosteroid, NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs), atau obat-obatan imunomodulatori. Jika disebabkan infeksi bakteri, maka dapat diresepkan antibiotik.