Sukses

Peringatan

Keracunan makanan merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering terjadi di Indonesia. Kendati tidak ada data pasti, tidak jarang terjadi kasus saat seorang penderitanya harus dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Penyebab keracunan makanan cukup beragam. Bisa karena kontaminasi virus, bakteri, ataupun parasit. Berbagai organisme ini mengeluarkan racun yang kemudian mengakibatkan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang muncul dapat berupa keluhan ringan, sedang, hingga berat yang bahkan dapat mengancam nyawa penderitanya.

Walaupun dapat menyerang siapa saja dan di mana saja, faktanya beberapa golongan orang berisiko cukup tinggi menderita keracunan makanan. Kelompok yang rentan tersebut adalah:

• Lansia
• Ibu hamil
• Bayi dan anak- anak
• Penderita penyakit kronis

Diagnosis

Penderita keracunan makanan umumnya datang dengan keluhan mual, muntah, nyeri perut, hingga demam. Untuk menetapkan diagnosis keracunan makanan, selanjutnya perlu digali informasi medis yang mendalam.

Dari penggalian informasi tersebut akan didapatkan riwayat mengonsumsi makanan maupun minuman yang tidak bersih, tidak dimasak sempurna, tidak disimpan dengan baik, kedaluwarsa, atau mengandung bahan berbahaya. Pada kasus tertentu, diperlukan pula pemeriksaan labolatorium penunjang seperti biakan darah maupun analisis tinja.

Penyebab

Tidak hanya terjadi akibat jajan sembarangan, keracunan makanan juga dapat disebabkan oleh pengolahan makanan yang tidak tepat. Contoh pengolahan makanan yang tidak tepat ini meliputi beberapa hal, seperti:

• Proses masak yang tidak sempurna, khususnya daging.
• Makanan tidak disimpan pada suhu yang dianjurkan.
• Makanan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.
• Makanan yang sudah dimasak tidak dipanaskan dengan sempurna.
• Masakan tercemar tangan seseorang yang sedang sakit.
• Makanan atau minumam telah kedaluwarsa.

Gejala

Tanda dan gejala yang ditimbulkan dari keracunan makanan meliputi :

• Mual muntah
• Diare dengan atau tanpa disertai darah
• Nyeri perut
• Demam
• Lemas
• Nyeri kepala
• Nyerti otot

Berbagai gejala ini dapat muncul tak lama atau beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Pada beberapa kasus, gejala dapat timbul dalam hitungan hari hingga minggu setelahnya. Selama ada riwayat mengonsumsi makanan yang dicurigai, maka keracunan makanan dapat menjadi salah satu penyebabnya.

Komplikasi

Keracunan makanan yang tidak ditangani dengan tepat dan segera dapat menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi. Bahkan hal ini bisa mengancam jiwa orang tersebut.

Pada ibu hamil, keracunan bakteri tertentu dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur, atau meninggal ketika dilahirkan. Bayi yang lahir normal pun bisa berisiko terganggu perkembangannya akibat keracunan makanan ini.

Pengobatan

Karena penderita keracunan sangat rentan dehidrasi, maka rehidrasi atau pemberian cairan menjadi langkah utama yang perlu dilakukan. Bila pasien tidak mampu minum karena mual muntah berlebih misalnya, maka rehidrasi dapat dilakukan melalui infus.

Pengobatan lain keracunan makanan didasari oleh gejala yang dialami penderita. Pada penderita dengan keluhan demam, dapat diberikan penurun panas.

Pencegahan

Untuk mencegah keracunan makanan, pastikan setiap langkah pengolahan makanan sudah tepat dan terjaga kebersihannya, seperti:

• Cuci tangan, peralatan dapur, dan bahan masakan dengan seksama menggunakan sabun dan air mengalir.
• Simpan bahan makanan mentah terpisah dengan makanan matang. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kontaminasi silang.
• Masak bahan makanan, terutama dari sumber hewani, hingga benar-benar matang.
• Segera simpan bahan mentah dalam lemari pendingin paling lambat satu jam setelah pembelian
• Cairkan makanan beku dengan meletakan di lemari pendingin atau menggunakan microwave. Mencairkan makanan di suhu ruang berpotensi memberi kesempatan organisme berkembang biak.

Pada kelompok orang tertentu seperti ibu hamil, anak- anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit kronis, keracunan makanan dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa. Oleh karena itu, kelompok orang ini dianjurkan untuk memperhatikan dengan baik kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsinya.

Sebisa mungkin, kendalikan pula konsumsi hal- hal berikut :

• Daging atau ayam mentah
• Hidangan laut mentah
• Telur mentah atau setengah matang, termasuk kue atau masakan yang menggunakan telur tersebut
• Sayuran mentah
• Susu dan olahannya yang tidak melalui proses pasteurisasi
• Olahan daging seperti sosis atau ham yang tidak dimasak sempurna