Sukses

Pengertian

Karsinoma nasofaring merupakan salah satu jenis kanker yang timbul pada nasofaring, yakni area yang terletak di belakang hidung, di sebelah atas bagian belakang tenggorokan. Karsinoma ini lebih sering terjadi pada populasi belahan dunia tertentu, terutama Asia Tenggara.

Penyakit ini sulit dideteksi secara dini akibat lokasinya yang tersembunyi. Area nasofaring memang membuat kanker ini menjadi sulit untuk dievaluasi. Terlebih, gejala kanker nasofaring sering kali menyerupai kondisi gangguan lain yang lebih umum terjadi, seperti batuk atau pilek. Penanganan kanker nasofaring umumnya mencakup terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari keduanya.

Penyebab

Karsinoma nasofaring diawali dengan satu atau lebih mutasi genetik yang menyebabkan sel normal berlipat ganda secara lebih cepat, menjelajah struktur di sekitarnya, dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lain. Pada karsinoma nasofaring, proses diawali dari sel skuamosa yang melapisi nasofaring. Penyebab mutasi genetik yang menyebabkan karsinoma nasofaring ini tidak diketahui secara jelas.  

Beberapa faktor tertentu, seperti virus Epstein-Barr, telah diidentifikasi dapat meningkatkan risiko kanker jenis ini. Meski begitu, masih belum bisa dijelaskan secara pasti mengenai faktor risiko. Ada kelompok orang dengan berbagai faktor risiko yang tidak mengalami kanker. Sebaliknya, ada kelompok orang tanpa faktor risiko yang justru mengalami kanker.

Berbagai penelitian berusaha mengidentifikasi beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko terjadinya karsinoma nasofaring, termasuk:

  • Jenis kelamin. Karsinoma nasofaring lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.
  • Usia. Karsinoma nasofaring dapat terjadi pada usia berapa saja. Tetapi, jenis kanker ini paling sering terdiagnosis pada orang dewasa yang berusia di antara 30 hingga 50 tahun.
  • Makanan yang diawetkan dengan garam. Bahan kimia yang dilepaskan bersama uap saat memasak makanan yang diawetkan dengan garam, seperti ikan dan sayuran yang diawetkan, dapat terhirup melalui hidung.
    Paparan ini diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya karsinoma nasofaring. Sering terpapar bahan kimia tersebut pada usia dini juga diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma nasofaring.
  • Virus Epstein-Barr. Jenis virus ini dapat menyebabkan timbulnya tanda dan gejala yang ringan berupa batuk dan pilek. Terkadang, virus ini juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit mononukleosis infeksius. Namun, virus Epstein-Barr juga dikaitkan dengan beberapa jenis kanker yang jarang, salah satunya adalah karsinoma nasofaring.
  • Riwayat keluarga. Memiliki anggota keluarga dengan karsinoma nasofaring meningkatkan risiko mengalami penyakit tersebut.

Gejala

Pada tahap awal, karsinoma nasofaring bisa saja tidak menunjukkan tanda dan gejala. Beberapa tanda dan gejala karsinoma nasofaring bisa berupa:

  • Benjolan di leher yang disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening
  • Darah pada air liur
  • Darah dari hidung
  • Sumbatan hidung
  • Penurunan pendengaran
  • Infeksi telinga berulang
  • Nyeri kepala

Diagnosis

Pemeriksaan dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis karsinoma nasofaring mencakup:

  • Pemeriksaan fisik. Diagnosis karsinoma nasofaring umumnya diawali dengan pemeriksaan umum. Dokter akan menanyakan seputar keluhan yang dialami.
    Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan fisik secara langsung. Salah satu jenis pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah meraba kemungkinan benjolan di leher untuk menilai ada atau tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
  • Endoskopi nasal. Dokter akan memerlukan penggunaan endoskopi nasal bila diduga terdapat karsinoma nasofaring. Pemeriksaan ini menggunakan pipa tipis yang melentur dengan kamera di ujungnya untuk melihat bagian dalam nasofaring dan mencari adanya kelainan. Kamera dapat dimasukkan melalui hidung atau celah di bagian belakang tenggorok yang menuju nasofaring.
  • Pemeriksaan untuk mengambil sampel jaringan. Dokter dapat menggunakan alat endoskopi atau alat lainnya untuk mengambil sampel kecil jaringan di area tersebut. Proses yang disebut sebagai biopsi ini diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut.
  • Pemeriksaan pencitraan. Setelah diagnosis kanker dikonfirmasi, dokter bisa memerlukan pemeriksaan untuk menentukan stadium kanker. Salah  satunya adalah dengan pemeriksaan pencitraan. Pemeriksaan pencitraan dapat mencakup foto rontgen, Computerized Tomography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan Positron Emission Tomography (PET).

Penanganan

Penanganan untuk karsinoma nasofaring umumnya diawali dengan terapi radiasi atau kombinasi dari radiasi dan kemoterapi. Terapi radiasi menggunakan energi berkekuatan tinggi, seperti sinar-x atau proton, untuk merusak sel kanker.

Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring umumnya diberikan melalui prosedur yang disebut sebagai sinar radiasi eksternal. Untuk tumor nasofaring yang berukuran kecil, terapi radiasi saja mungkin sudah cukup. Namun, pada kondisi lainnya, terapi radiasi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi.

Kemoterapi merupakan pengobatan yang menggunakan bahan kimia untuk merusak sel kanker. Obat-obat kemoterapi dapat diberikan secara oral, melalui pembuluh darah vena (intravena), atau keduanya. Kemoterapi dapat digunakan dalam penanganan karsinoma nasofaring dalam waktu yang sama dengan terapi radiasi, setelah terapi radiasi, atau sebelum terapi radiasi.

Pembedahan jarang digunakan sebagai penanganan untuk karsinoma nasofaring. Pembedahan bisa dilakukan untuk mengangkat kelenjar getah bening leher yang telah terkena sel kanker. Pada kasus yang lebih jarang, pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor dari area nasofaring.

Pencegahan

Tidak ada cara yang terbukti secara pasti dapat mencegah timbulnya karsinoma nasofaring. Namun, upaya yang dapat dilakukan adalah menghindari kebiasaan yang dikaitkan dengan kondisi ini.

Misalnya, seseorang dapat memilih untuk membatasi asupan makanan yang diawetkan dengan garam, atau menghindari asupan makanan jenis ini sepenuhnya. Menghindari merokok termasuk menjadi perokok pasif, serta menjalankan pola hidup sehat dengan cukup istirahat.