Sukses

Pengertian

Kanker nasofaring atau kanker kerongkongan adalah tumor ganas yang tumbuh di area nasofaring. Nasofaring merupakan bagian dari sistem pernapasan yang terletak di hidung bagian dalam hingga ke tenggorokan atau kerongkongan.

Berbeda dengan beberapa jenis kanker lainnya (seperti kanker payudara, kanker serviks atau leher rahim), yang mudah diraba atau dilihat. Jenis kanker yang satu ini seringkali luput dari pemeriksaan karena sulit terlihat dan tak dapat diraba.

Segeralah peroleh penanganan bila Anda didiagnosis kanker nasofaring atau kanker kerongkongan. Bila dibiarkan tanpa pengobatan, dalam jangka panjang kanker ini dapat berkembang.

Perkembangannya ada dua jenis, yang pertama yaitu perkembangan kanker ke daerah sekitarnya (misalnya berkembang ke kerongkongan dan otak), dan yang kedua yaitu penyebaran jauh (metastase). Meskipun kanker awalnya ada didaerah nasofaring, kanker ini dapat menyebar jauh ke tulang, paru-paru, dan hati.

Diagnosis

Penentuan diagnosis kanker nasofaring atau kanker kerongkongan awalnya dilakukan untuk mencari gejala-gejala yang sesuai. Area pemeriksaan mencakup mata, telinga, tenggorokan (daerah nasofaring), dan leher.
Selain itu diperlukan juga pemeriksaan radiologi seperti:

  • Sinar X
  • CT-scan
  • MRI kepala

Gejala

Gejala kanker nasofaring atau kanker kerongkongan dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

  • Gejala nasofaring. Gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga berat, atau sumbatan pada hidung.
  • Gejala Telinga. Ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali dengan muara tuba eustachius telinga. Pembesaran pada tumor akan menyebabkan tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga, seperti: nyeri, berdenging, dan rasa tidak nyaman.
  • Gejala Mata. Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak. Salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda.
  • Gejala di leher. Gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker nasofaring atau kanker kerongkongan, berupa pembesaran atau benjolan di leher.

Untuk pemeriksaan tambahan, CT-scan dapat membantu proses diagnosis tumor di daerah kepala dan leher. Sehingga tumor primer yang terletak di belakang dan tersembunyi seperti kanker nasofaring, dapat ditemukan.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah prosedur biopsi nasofaring (pengambilan sedikit jaringan nasofaring untuk dilihat dibawah mikroskop). Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dari hidung dan dari mulut.

Pengobatan

Radioterapi hingga sekarang masih merupakan terapi utama dari kanker nasofaring atau kanker kerongkongan. Pengobatan tambahan yang dapat diberikan adalah berupa bedah diseksi leher, pemberian tetrasiklin, interferon, kemoterapi, dan vaksin antivirus.

Prosedur radioterapi dapat menimbulkan efek samping seperti mulut terasa kering, jamur pada mulut, rasa kaku di leher, sakit kepala, terkadang dapat memicu mual dan muntah. Oleh karena itu penderita disarankan untuk membawa air minum selama beraktivitas dan berusaha menjaga kebersihan pada mulut dan gigi.

Penyebab

Penyebab kanker nasofaring atau kanker kerongkongan adalah infeksi virus Epstein Barr. Selain itu juga ada beberapa faktor pemicu lainnya. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki. Meskipun demikian, alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah iritasi bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan tertentu. Misalnya seperti kebiasaan orang Eskimo yang gemar mengawetkan ikan dengan menggunakan nitrosamine.

Mengenai faktor keturunan juga sudah banyak diteliti. Namun hingga sekarang belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Satu hal lagi yang penting diketahui adalah bahwa penyakit ini seringkali menyerang masyarakat dengan golongan sosial yang rendah, hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orang-orang tersebut.