Sukses

Pengertian

Gangguan tidur merupakan segala bentuk kondisi ketika secara kuantitas maupun kualitas, proses tidur secara baik dan sempurna seseorang tidak terpenuhi. Terdapat banyak jenis gangguan tidur.

Berdasarkan kategorinya, gangguan tidur dapat dibedakan menjadi:

  • Insomnia, yaitu gangguan berupa kesulitan untuk tidur atau kesulitan mempertahankan tidur.
  • Hipersomnia, yaitu gangguan tidur berupa tidur berlebihan.
  • Sleep related brathing disorders, merupakan gangguan tidur berupa kesuiltan bernapas saat tidur.
  • Circadian rhythm sleep-wake cycle disorder, yaitu gangguan tidur berupa waktu tidur di luar waktu yang normal.
  • Parasomnia, merupakan gangguan tidur berupa kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi saat akan tidur, tidur, atau bangun.
  • Sleep movement disorders, yaitu gangguan tidur berupa gerakan saat atau sebelum tidur yang membuat seseorang sulit tidur, sulit mempertahankan tidur, atau tidur tidak nyenyak.

Penyebab

Ada beberapa faktor penyebab gangguan tidur. Mulai dari faktor kondisi psikologis, kondisi biologis, penggunaan obat-obatan dan alkohol, faktor lingkungan, serta kebiasaan buruk atau tak sehat yang tidak disadari oleh seseorang dengan gangguan tidur.  

Faktor-faktor tersebut jarang berdiri sendiri. Contohnya adalah faktor kondisi fisik tertentu yang dapat memicu timbulnya masalah psikologis. Begitupun sebaliknya. Faktor psikologis juga dapat memengaruhi sistem saraf pusat sehingga membuat kondisi fisik senantiasa siaga seperti saat cemas, tegang, atau stres. Kondisi inilah yang lalu membuat kualitas tidur memburuk.

Diagnosis

Umumnya dokter menentukan adanya gangguan tidur melalui pengumpulan informasi dari pasien seputar gejala yang dirasakan. Mengingat banyaknya faktor yang dapat menyebabkan gangguan tidur, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya. Termasuk menggali berbagai kemungkinan adanya kondisi medis yang mendasari kesulitan tidur.

Para dokter ahli gangguan tidur kini menggunakan alat yang disebut polysomnography di malam hari (overnight polysomnography) untuk memantau kondisi tidur seseorang. Alat pemantau tersebut dipasang di tubuh pasien yang menginap di klinik gangguan tidur untuk merekam aktivitas listrik otak, mata, otot dagu, jantung, pengukur saturasi oksigen, aliran udara, perekam dengkuran dan usaha bernapas dari otot dada serta perut.

Pemeriksaan fisik dan penunjang untuk gangguan tidur biasanya bertujuan mengetahui  dan menganalisis kondisi gelombang otak, gerakan bola mata, suara dengkuran, tegangan otot dagu, aliran udara hidung, gerakan napas dada dan perut, kadar oksigen dalam darah, irama jantung, hingga gerakan kaki. Rangkaian pemeriksaan ini akan menentukan jenis gangguan tidur yang terjadi dan langkah penanganan yang dubutuhkan.  

Gejala

Gejala yang dialami orang dengan gangguan tidur cukup bervariasi, tergantung dari tipe gangguan tidurnya. Misalnya pada orang yang mengalami sulit tidur (insomnia),  umumnya penderita sering kali membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk bisa tidur. Selain itu mereka pun hanya bisa tidur selama enam jam atau kurang, setidaknya tiga hari berturut-turut dalam sebulan atau lebih.

Orang dengan gangguan tidur biasanya memiliki satu atau lebih gejala berikut ini:

  • Sulit untuk memulai tidur
  • Sering terbangun pada malam hari dan sulit untuk tidur kembali
  • Bangun terlalu pagi
  • Merasa lelah dan mengantuk pada siang keesokan harinya
  • Kesulitan mengingat atau berkonsentrasi
  • Mengalami kondisi mendengkur, tercekik, atau terengah-engah saat tidur
  • Kondisi psikologis yang rentan, seperti mudah marah, iritabilitas, depresi, atau mudah terjadi perubahan suasana hati
  • Merasa pusing di malam atau pagi hari

Pengobatan

Gangguan tidur perlu dicari tahu secara persis penyebab yang melatarinya. Dengan demikian, penanganan yang diberikan dapat  sesuai dan tepat sasaran. Terapi terbaik adalah dengan mengatasi penyebabnya. Selama penyebab yang mendasari masih ada, Anda akan terus mengalami gangguan tidur.

Secara umum penanganan terhadap insomnia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

  • Perubahan perilaku (behavior therapy)
    Behaviour therapy merupakan terapi lini pertama untuk mengatasi insomnia. Terapi ini bisa dilakukan dengan membangun kebiasaan tidur yang baik. Misalnya dengan membuat jadwal tidur yang teratur, menghindari aktivitas yang dapat membuat Anda tetap terbangun, dan membuat lingkungan yang nyaman untuk tidur.
  • Cognitive behavioral therapy
    Terapi ini membantu Anda mengontrol atau mengurangi pikiran negatif dan rasa cemas yang membuat Anda tetap terjaga.
  • Teknik relaksasi
    Relaksasi otot dan latihan pernapasan dapat mengurangi gangguan cemas.
  • Stimulus control therapy
    Terapi ini bertujuan untuk membatasi aktivitas di tempat tidur yang membuat Anda tetap terbangun. Selain itu, Anda juga akan diminta untuk menjadikan tempat tidur hanya untuk tidur dan melakukan aktifitas seksual. Bukan untuk membaca, bekerja, menonton TV, atau makan. 
  • Pemberian obat-obatan
    Obat-obatan diberikan jika insomnia atau gangguan tidur tidak berhasil diatasi dengan terapi. Obat tidur hanya boleh diberikan oleh dokter dan tetap berada dalam pengawasan dokter. Dokter biasanya tidak merekomendasikan penggunaan obat tidur dalam jangka waktu lama.

Pencegahan

Menjaga sleep hygiene atau pola tidur yang sehat akan sangat membantu mencegah gangguan tidur. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan, adalah:

  • Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur (hindari bekerja, belajar, menonton TV di tempat tidur).
  • Hindari konsumsi kafein dari sore hari hingga menjelang tidur.
  • Lakukan rutinitas relaksasi sebelum tidur.
  • Berolahraga secara tepat dan teratur.
  • Buat jadwal tidur dan bangun yang sama setiap hari. Hindari bangun tidur terlalu siang pada saat akhir pekan.
  • Buat kondisi senyaman mungkin untuk tidur, seperti penggunaan lampu tidur, penutup mata, menghindari suara bising, televisi, dan sebagainya. Tidur di ruangan gelap lebih baik daripada ruangan terang.
  • Hindari penggunaan obat tidur, terutama tanpa anjuran dokter. Obat tidur hanya efektif untuk sementara dan penggunaan yang berlebihan justru akan membuat penurunan efektivitas obat tersebut.