Sukses

Pengertian

Gangguan sendi rahang merupakan gangguan yang langsung berada di area depan telinga pada kedua sisi kepala, di mana rahang atas dan bawah bertemu. Kondisi ini cukup kompleks, karena sendi kiri dan kanan rahang tidak dapat bergerak secara sinkron pada saat berfungsi. Karena itu, bila sendi rahang terganggu, dapat terjadi dampak yang cukup besar terhadap kualitas hidup. 

Diagnosis

Mulai dari anak-anak hingga lansia, semua berpotensi terkena gangguan sendi rahang. Namun, gangguan ini sering sering dialami dewasa berusia 20-40 tahun, dengan jumlah penderita wanita lebih banyak daripada pria.

Beberapa penelitian menemukan bahwa 70-85% pasien sering merasakan nyeri kepala dan 40% melaporkan adanya nyeri di wajah. Jadi sebelum perawatan dilakukan, penyebab nyeri kepala harus diidentifikasi terlebih dahulu. Selain itu, dokter gigi adalah tenaga medis pertama yang harus dapat mendiagnosis gejala gangguan sendi rahang.

Studi di Finlandia menemukan bahwa banyak pasien gangguan sendi rahang mengalami overdiagnosis dan overtreatment, karena tanda dan gejala penyakit ini sering tidak betul-betul dipahami oleh para praktisi.

Gejala

Waspadalah pada gejala-gejala gangguan sendi rahang berikut ini:

  • Rasa sakit tepat di depan telinga, dan dapat menyebar ke area pipi, telinga, hingga kulit.
  • Terkadang rahang terasa seperti tertahan atau terkunci.
  • Karena posisi telinga sangat dekat dengan rahang, maka beberapa orang seperti mendengar suara di telinga. Kepekaan terhadap suara di dalam telinga ini akan menyebabkan pusing hingga vertigo.
  • Dapat mendengar suara saat rahang mengunyah atau memindahkan mulut. Hal ini sebenarnya sangat normal, tetapi jika ada rasa sakit di sendi, Anda perlu waspada.

Pengobatan

Sebagai pertolongan pertama di rumah, Anda bisa mencoba cara berikut untuk meredakan gangguan sendi rahang:

  • Terapi obat untuk meredakan pembengkakan dan mengurangi rasa sakit.
  • Konsumsi makanan dengan tekstur yang lembut seperti bubur, atau bisa juga dengan memotong makanan menjadi kecil-kecil sehingga lebih mudah dihancurkan.
  • Hindari makanan yang keras dan kenyal, apalagi yang berukuran besar.
  • Kompres wajah bagian samping dengan air es selama 10 menit, kemudian kompres dengan handuk hangat selama 5 menit. Lakukan beberapa kali dalam sehari.

Pencegahan

Agar terhindar dari gangguan sendi rahang, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Hindari kebiasaan menekan dan mengatup-ngatupkan gigi. Misalnya saat menggigit benda yang bukan makanan, seperti pulpen, pensil, dan kuku.
  • Hindari menelepon dengan cara menjepitnya di antara leher dan pipi.
  • Jauhkan diri Anda dari aktivitas yang memaksa untuk membuka mulut lebar-lebar.
  • Kurangi bertopang dagu dan mengunyah dengan satu sisi gigi.

Penyebab

Bentuk rahang bawah yang melekat pada persendian menyerupai bulatan dan menempel pada tulang tengkorak yang dilapisi oleh tulang rawan. Tulang ini dipisahkan oleh cakram yang berfungsi sebagai peredam agar gerakan mengunyah, membuka, atau menutup mulut pada sendi tetap halus.

Ketika terjadi gangguan pada sendi rahang, ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebabnya, yakni:

  • Oklusi
    Pada kondisi ini, gigi geligi tersusun secara pas satu dengan yang lainnya di dalam dan di antara rahang. Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya gangguan sendi rahang, tetapi akhir-akhir ini banyak diperdebatkan.
  • Trauma, yang dapat dibagi menjadi dua:
  • Makrotrauma: Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktur rahang, seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan. 
  • Mikrotrauma: Trauma ringan tetapi berulang dalam jangka waktu yang lama, seperti mengerat dan menggesek-gesekkan gigi atas dan bawah dengan keras. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan mikrotrauma pada jaringan yang terlibat, seperti gigi, sendi rahang, atau otot.
  • Stres emosional
    Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada gangguan sendi rahang. Bila terjadi stres, energi yang timbul akan disalurkan ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan, seperti hipertensi, asma, sakit jantung, atau peningkatan kontraksi otot kepala dan leher.
  • Deep pain input
    Merupakan semua aktivitas di luar fungsi normal dan tidak mempunyai tujuan fungsional. Contohnya kebiasaan-kebiasaan seperti mengerat, menggesekkan gigi atas dan bawah dengan keras, menggigit kuku, mengunyah satu sisi, dan bertopang dagu. Pasien yang melakukan hal-hal ini, terutama mengerat dan menggesek gigi, sering melaporkan adanya rasa nyeri pada sendi rahang dan kelelahan pada otot-otot wajah saat bangun tidur.