Sukses

Pengertian

Diabetes insipidus merupakan suatu penyakit dengan angka kejadian yang cukup jarang. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan regulasi cairan di dalam tubuh.

Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan timbulnya rasa haus yang berlebih bahkan setelah mengonsumsi cairan serta pengeluaran atau ekskresi jumlah urine yang banyak, termasuk pada malam hari. Hal ini  merupakan dua gejala utama diabetes insipidus.

Penyebab

Diabetes insipidus terjadi apabila tidak terdapat keseimbangan dari pengelolaan cairan di dalam tubuh. Umumnya, ginjal berfungsi dalam pengeluaran cairan yang berlebih dari tubuh.

Cairan tersebut disimpan sementara di kandung kemih, sebelum akhirnya keluar dari tubuh sebagai urine. Jumlah cairan yang dikeluarkan dari tubuh sangat bergantung dari hormon vasopresin, yang juga dikenal dengan istilah hormon antidiuretik.

Pada diabetes insipidus, terdapat penurunan produksi dari hormon vasopresin. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak dapat menahan air di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, terjadi peningkatan dari produksi urine yang keluar.

Gejala

Tanda dan gejala dari diabetes insipidus yang paling sering diamati adalah rasa haus yang berlebih dan pengeluaran urine yang terdilusi dalam jumlah yang sangat banyak. Bergantung dari derajat keparahan kondisinya, jumlah urine yang diproduksi dapat mencapai 15 liter bila individu tersebut mengonsumsi cairan dalam jumlah banyak.

Umumnya, orang dewasa yang sehat memroduksi sekitar 3 liter urine setiap harinya. Tanda dan gejala lain yang dapat timbul adalah sering terbangun pada malam hari untuk berkemih dan juga mengompol.

Pada bayi dan anak-anak yang mengalami diabetes insipidus, tanda dan gejala yang dapat timbul mencakup:

  • Tangisan yang tidak dapat ditenangkan
  • Kesulitan tidur
  • Demam
  • Muntah
  • Diare
  • Hambatan pertumbuhan
  • Penurunan berat badan
  • Mengompol
  • Penurunan nafsu makan
  • Rasa lelah yang terus-menerus

Diagnosis

Karena tanda dan gejala yang timbul pada diabetes insipidus dapat juga disebabkan oleh kondisi medis lainnya, dokter akan menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang. Selain itu, bila dokter menetapkan bahwa seseorang mengalami diabetes insipidus, dokter tersebut juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan jenis dari diabetes insipidus yang dialami, karena penanganannya dapat berbeda.

Beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis dan tipe dari diabetes insipidus adalah:

  • Tes deprivasi air. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan juga penyebab dari diabetes insipidus. Dalam pengawasan tenaga kesehatan, individu akan diminta berhenti mengonsumsi air untuk periode waktu tertentu agar dokter dapat menilai adanya perubahan pada berat badan, produksi urine, dan konsentrasi urine dan darah pada kondisi deprivasi air.
    Dokter juga dapat mengukur kadar vasopresin dalam darah atau melakukan pemberian vasopresin buatan selama berlangsungnya tes ini. Tes ini harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat, terutama pada anak dan wanita hamil, untuk memastikan bahwa tidak terdapat penurunan berat badan lebih dari 5 persen.
  • Pemeriksaan analisis urine. Analisis urine merupakan pemeriksaan fisik dan kimiawi dari kondisi urine. Bila terdapat konsentrasi yang rendah pada urine, hal ini dapat berarti bahwa jumlah air jauh lebih tinggi relatif terhadap zat lain yang dikeluarkan, yang merupakan salah satu tanda dari diabetes insipidus.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pemeriksaan MRI merupakan pemeriksaan yang non-invasif menggunakan medan magnet yang kuat dan gelombang radio untuk membuat pencitraan dari jaringan pada otak. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk melihat adanya kelainan pada atau di sekitar kelenjar pituitari.

Penanganan

Penanganan pada diabetes insipidus ditujukan untuk menurunkan jumlah urine yang diproduksi oleh tubuh. Bergantung dari tipe diabetes insipidus yang dialami, terdapat beberapa prosedur penanganan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gejala yang terjadi.

Untuk diabetes insipidus sentral yang ringan (produksi urine sekitar 3–4 liter dalam 24 jam), umumnya tidak membutuhkan penanganan medis. Pada kondisi ini, gejala dapat ditangani dengan meningkatkan jumlah air yang dikonsumsi untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

Namun, bila diabetes insipidus sentral yang dialami cukup berat, mengendalikan jumlah air yang dikonsumsi saja belum tentu cukup untuk mengatasi gejala. Dalam kondisi ini, dokter dapat meresepkan obat yang mengambil alih fungsi vasopresin, yang disebut dengan desmopresin.

Desmopresin merupakan vasopresin sintetik atau buatan yang bekerja serupa dengan vasopresin natural, dengan cara menghentikan produksi urine berlebih dari ginjal saat jumlah air dalam tubuh rendah. Penggunaan desmopresin harus sesuai dengan resep dokter.

Walaupun jarang terjadi, beberapa efek samping yang dikaitkan dengan konsumsi desmopresin. Efek samping tersebut bisa berupa nyeri kepala, nyeri perut, rasa mual, hidung berair atau tersumbat, dan mimisan.

Sementara itu, untuk diabetes insipidus nefrogenik, yang merupakan diabetes insipidus akibat kelainan fungsi ginjal, penanganannya dapat berbeda. Karena diabetes insipidus jenis ini umumnya disebabkan oleh konsumsi obat golongan tertentu, tindakan awal yang akan dilakukan oleh dokter adalah menghentikan obat yang diduga menyebabkan keluhan tersebut.

Selain itu, dokter juga dapat menganjurkan konsumsi obat lain dengan fungsi yang sama. Selain itu, juga disarankan untuk menjaga asupan air agar mencegah terjadinya dehidrasi.

Pencegahan

Belum ada metode pencegahan yang terbukti dapat mencegah terjadinya diabetes insipidus.