klikdokter.com
Sabtu, 30 Agustus 2014
Penyakit Dalam
Enfisema



Emfisema merupakan bagian dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Emfisema sendiri merupakan pelebaran abnormal dari rongga udara distal sampai dengan bronkiolus terminal (rongga pernapasan) yang diikuti dengan destruksi atau penghancuran dinding dari sel paru (alveolus). Penyakit ini merupakan penyakit kronik dimana penyebab atau faktor risiko utama adalah merokok.

Kelainan radang bronchus dan bronchiolus yang sering disebabkan oleh asap rokok, debu industri. Radang peribron- chiolus disertai fibrosis menyebabkan iskhemia dan parut sehingga memperluas dinding bronchioles. Kelainan atrofik yang meliputi pengurangan jaringan elastik dan gangguan aliran darah; hal ini sering dijumpai pada proses menjadi tua. Obstruksi inkomplit yang menyebabkan gangguan pertukaran udara; hal ini dapat disebabkan oleh perubahan dinding bronchiolus akibat bertambahnya makrophag pada penderita yang banyak merokok. Insiden emfisema meningkat dengan disertai bertambahnya umur.

Ada dua bentuk emfisema yaitu :

  1. Sentrilobular ditandai oleh kerusakan pada saluran napas bronkhial yaitu pembengkakan, peradangan dan penebalan dinding bronkhioli. Perubahan ini umumnya ter- dapat pada bagian paru atas. Emfisema jenis ini biasanya bersama-sama dengan penyakit bronkhitis menahun, sehingga fungsi paru hilang perlahan-lahan atau cepat tetapi progresif dan banyak menghasilkan sekret yang kental.
  2. Emfisema Panlobular berupa pembesaran yang bersifat merusak dari distal alveoli ke terminal bronkhiale. Pembendungan jalan udara secara individual disebabkan oleh hilangnya elastisitas recoil dari paru atau radial traction pada bronkhioli. Ketika menghisap udara (inhale), jalan udara ter- ulur membuka, maka kedua paru yang elastis itu membesar; dan selama menghembuskan udara (ekshalasi) jalan udara menyempit karena turunnya daya penguluran dari kedua paru itu. Pada penderita emfisema panlobular, elastisitas parunya telah menurun karena robekan dan kerusakan dinding sekeliling alveoli sehingga pada waktu menghembuskan udara keluar, bronkhiolus mudah kolaps. Akibatnya fungsi pertukaran gas pada kedua paru tidak efektif. Dalam klinis penyakit emfisema dan bronkhitis menahun tidak jarang terdapat bersama-sama, dan bila sendiri-sendiri sukar dibedakan satu sama lain; kedua penyakit tersebut mempunyai tanda khas yang menyolok yaitu penurunan fungsi pernapasan akibat bendungan total bronkhus bronkhiolus, sehingga penyakit ini disebut COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) atau COLD (Chronic Obstructive Lung Disease).

Gejala utama emfisema adalah sesak napas, napas cepat dan pendek, mudah lelah dengan aktivitas biasa, dan gejala ini akan semakin memburuk seiring dengan progresifitas penyakit, paparan lebih lanjut:

 

  • Batuk produktif disertai sputum yang meningkat.
  • Gangguan pernapasan.
  • Gangguan pengembangan thorax.
  • Kelemahan otot-otot pernapasan.
  • Spasma/tegang otot-otot leher.

 

 

Kondisi seseorang emfisema ditelusuri dengan proses anamnesis. Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien. Berbeda dengan wawancara biasa, anamnesis dilakukan dengan cara yang khas, berdasarkan pengetahuan tentang penyakit dan dasar-dasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien. 

 
Anamnesis untuk emfisema meliputi:
 
  • Anamnesis Khusus : Keluhan utama, lokasi keluhan utama, ciri/bentuk keluhan utama, berapa lama keluhan terjadi, hambatan gerak, jumlah produksi sputum keluar dalam sehari, posisi saat serangan timbul serta riwayat perjalanan penyakit.
  • Inspeksi statis dan dinamis : melihat bentuk tubuh pasien, bentuk thoraks, pola pernapasan, gerakan thoraks serta akti- vitas yang tidak dapat dilakukan oleh penderita; dan pe- meriksaan kekuatan otot ekspirasi dan inspirasi.
  • Pemeriksaan fungsi dasar : Pemeriksaan ini dikhususkan pada gerakan thorakal berupa gerakan aktif dan pasif serta pengembangan costovertebra. 
  • Pemeriksaan spesifik : Tes fremitus suara, Tes pengembangan thorax, Tes Pump Handle Movement dan Bucket Handle MovementParadoxical breathing, Tes ventilasi (meniup lilin), Tes spirometer, Tes palpasi, perkusi, auskultasi dan vital sign, pemeriksaan sputum. 

Perencanaan terapi yang pertama kali dijabarkan adalah menghentikan merokok karena pajanan asap rokok akan semakin memperburuk emfisema. Terapi untuk emfisema adalah terapi untuk memperbaiki gejala, mengurangi keluhan, memperlambat progresifitas penyakit, dan mencegah terjadinya komplikasi akibat emfisema.

Perlu diketahui bahwa sel paru yang sudah hancur tidak dapat diperbaiki lagi. Yang perlu dijaga adalah mencegah sel paru yang sehat menjadi rusak dengan mencegah perluasan penyakit.

Tujuan umum dan rencana pengobatan kondisi emfisema ialah sebagai berikut :

• Membantu mengeluarkan sputum dan meningkatkan efi- siensi batuk. 

• Mengatasi gangguan pernapasan pasien.

• Memperbaiki gangguan pengembangan thoraks. 

• Meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan. 

• Mengurangi spasme/ketegangan otot-otot leher pasien. 

 

 

 

Karena kasus emfisema disebabkan oleh rokok, maka pencegahan paling baik adalah berhenti merokok. Selain itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah emfisema :

  • berhenti merokok dan hindari pajanan rokok (perokok pasif)
  • hindari zat yang dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Ini termasik bau cat, beberapa jenis bau masakan, beberapa parfum. Jaga kelembaban di rumah Anda sekitar 40-50%
  • berolahraga teratur
  • banyak minum air putih setiap hari dan jangan minum alkohol
  • hindari udara dingin
  • hindari infeksi saluran pernapasan (ISPA) dengan melakukan vaksinasi teratur (vaksin influenza, vaksin pneumonia). Hindari berkontak dengan seseorang yang mengalami influenza
  • asupan bergizi seimbang


Artikel Terkait
Artikel Terkait
Baca Juga

JOIN MILIS

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Konsil Kedokteran Indonesia Departemen Kesehatan ILUNI FKGUI ILUNI FKUI Ikatan Dokter Indonesia Fiaksi Indonesia