klikdokter.com
Senin, 28 Juli 2014
Kulit dan kelamin
Kusta



Definisi

Kusta adalah penyakit infeksi yang berlangsung dalam waktu lama, penyebabnya adalah Mycobacterium leprae. Menyerang saraf tepi sebagai tujuan pertama, lalu kulit dan saluran pernapasan bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Nama lainnya adalah Lepra atau Morbus Hansen


Gejala Klinis

Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran tanda dan gejala yang dimiliki. Di antara semuanya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan paling sederhana. Hasil pemeriksaan bakteri memerlukan waktu yang paling sedikit 15-30 menit, sedang pemeriksaan sel memerlukan 3-7 hari. Kalau masih memungkinkan, baik juga dilakukan tes lepromin (Mitsuda) untuk membantu penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat diketahui setelah 3-4 minggu. Tidak cukup hanya sampai diagnosis kusta saja, tetapi perlu ditentukan tipenya, sebab penting untuk terapinya.

Kusta terkenal sebagai penyakit yang paling ditakuti karena deformitas atau cacat tubuh. Orang awam pun dengan mudah dapat menduga kearah penyakit kusta. Yang penting setidak-tidaknya dapat menduga ke arah penyakit kusta, terutama bagi kelainan kulit yang berupa perubahan warna seperti hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang), hiperpigmentasi (warna kulit menjadi lebih gelap), dan eritematosa (kemerahan pada kulit).

Gejala lain dari penyakit kusta adalah hilangnya sensasi rasa. Hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik terhadap rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba.

Mengenai saraf tepi yang perlu diperhatikan ialah pembesarannya, kekenyalannya, dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang berada di permukaan kulit yang dapat dan perlu diperiksa, yaitu antara lain Nervus (saraf). Fasialis, N. aurikularis magnus, N. radialis, N. ulnaris, N. medianus, N. poplitea lateralis, N. tibialis posterior

Kecacatan pada kusta, sesuai dengan mekanisme kejadiannya, dapat dibagi dalam deformitas primer dan sekunder. Yang primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M. leprae, yang mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya, yaitu kulit, mukosa saluran pernapasan atas, tulang-tulang jari, dan muka. Yang sekunder sebagai akibat kerusakan saraf. Umumnya kecacatan oleh karena keduanya, tetapi terutama oleh yang sekunder.

Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda cardinal (tanda utama) yaitu:

  1. Bercak kulit yang mati rasa

Bercak hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang) atau eritematosa (kemerahan pada kulit), makula (mendatar) atau plak (meninggi). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, dan rasa nyeri.

 

                   

Gambar 1. Bercak Eritematosa      

              

                      Gambar 2. Bercak Hipopigmentasi         

  1. Penebalan saraf tepi

Dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu:

    1. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa
    2. Gangguan fungsi motoris: kelumpuhan
    3. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, bengkak, pertumbuhan rambut yang terganggu.
  1. Ditemukan kuman tahan asam
Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

Pengobatan

1.       DDS (Dapsone).

  • Singkatan dari Diamino Diphenyl Sulfone.
  • Bentuk obat berupa tablet warna putih dengan takaran 50 mg/tab dan 100 mg/tablet.
  • Sifat bakteriostatik yaitu menghalang/menghambat pertumbuhan kuman kusta.
  • Dosis : dewasa 100 mg/hari, anak-anak 1-2 mg/kg berat badan/hari.
  • Efek samping jarang terjadi, berupa anemia hemolitik.
  • Manifestasi kulit (alergi) seperti halnya obat lain, seseorang dapat alergi terhadap obat ini. Bila hal ini terjadi harus diperiksa dokter untuk dipertimbangkan apakah obat harus distop.
  • Manifestasi saluran pencernaan makanan : tidak mau makan, mual, muntah.
  • Manifestasi urat syaraf; gangguan saraf tepi, sakit kepala vertigo, penglihatan kabur, sulit tidur, gangguan kejiwaan. 

2.       Lamperene (B663) juga disebut Clofazimine.

  • Bentuk : kapsul warna coklat.Ada takaran 50 mg/kapsul dan 100 mg/kaps.
  • Sifat : bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan kuman kusta dan anti reaksi (menekan reaksi).
  • Dosis : untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi,lihat pada regimen pengobatan MDT.
  • Efek sampingan :
  • Gangguan pencernaan berupa diare, nyeri pada lambung.

3.       Rifampicin.

  • Bentuk : Kapsul atau tablet takaran 150 mg, 300 mg, 450 mg dan 600 mg.
  • Sifat : Bakteriosid (Mematikan kuman kusta)
  • Dosis : Untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi,lihat pada regimen pengobatan MDT. Untuk anak-anak dosisnya adalah 10-15 mg/kg berat badan.
  • Efek samping : dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal. Dengan pemberian Rifampicin 600 mg/bulan tidak berbahanya bagi hati dan ginjal (kecuali ada tanda-tanda penyakit sebelumnya). Sebelum pemberian obat ini perlu dilakukan tes fungsi hati apabila ada gejala-gejala yang mencurigakan. Perlu diberitahukan kepada penderita bahwa air seni akan berwarna merah bila minum obat. Efek samping lain adalah tanda-tanda seperti influenza (flu Syndrom) yaitu badan panas,beringus,lemah dan lain-lain,yang akan hilang bilamana diberikan obat penghilang gejala. Pengobatan Rifampicin supaya dihentikan sementara bila timbul gejala gangguan fungsi hati dan dapat dilanjutkan kembali bila fungsi hati sudah normal.

4.       Prednison.

  Obat ini digunakan untuk penanganan/pengobatan reaksi.

5.       Sulfat Ferrosus.

  Obat tambahan untuk pederita kusta yang Anemia Berat.

6.       Vitamin A.

  Obat ini digunakan untuk menyehatkan kulit yang bersisik (Ichthiosis).

Penyebab

Kuman penyebabnya adalah Mycobacterium leprae yang di temukan G.A. HANSEN pada tahun 1874 di Norwegia, tahan asam dan alkohol, serta dengan pewarnaan giemsa akan menunjukkan hasil Gram positif (berwarna ungu).

Klasifikasi

Jenis klasifikasi yang umum

  1. Klasifikasi Internasional : Klasifikasi Madrid (1953)
  • Indeterminate (I)
  • Tuberkuloid (T)
  • Borderline-Dimorphous (B)
  • Lepromatosa (L)
  1. Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klaisfikasi Ridley-Jopling (1962)
  • Tuberkuloid (TT)
  • Borderline tuberkuloid (BT)
  • Mid-borderline (BB)
  • Borderline lepromatous (BL)
  • Lepromatosa (LL)
  1. Klasifikasi untuk kepentingan program kusta : Klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988)
  • Pausibasiler (PB) à hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan pemeriksaan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid
  • Multibasiler (MB) à termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan pemeriksaan BTA positif

 Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan bakterioskopik (bakteri di laboratorium)

Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap bakteri tahan asam, antara lain dengan Ziehl Neelsen. Pemeriksaan bakteri negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung M. leprae.

Pertama-tama kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang diharapkan paling padat oleh bakteri, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tempat yang akan diambil. Untuk pemeriksaan rutin biasanya diambil dari minimal 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti yang paling merah di kulit dan infiltratif

  1. Pemeriksaan histopatologi (jaringan sel abnormal)

Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada sebagian kecil kasus bila diagnosis masih meragukan, pemeriksaan histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini sangat membantu khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta untuk menentukan tipe yang tepat.

      3.   Pemeriksaan serologis

Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman M. leprae mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak digunakan untuk mendiagnosis kusta adalah :

  • tes FLA-ABS
  • tes ELISA
  • tes MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah terbentuk di dalam tubuh pasien, titer dapat ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif.

Pencegahan Cacat Kusta

Prinsip yang penting pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah  :

  • pasien mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya luka
  • pasien dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok, melumasi) dan melatih sendi bila mulai kaku
  • penyembuhan luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka dengan cara istirahat

 

 



Artikel Terkait
Artikel Terkait
Baca Juga

JOIN MILIS

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Konsil Kedokteran Indonesia Departemen Kesehatan ILUNI FKGUI ILUNI FKUI Ikatan Dokter Indonesia Fiaksi Indonesia