Sukses

Mengenal Fetal Surgery, Operasi Janin dalam Rahim

Marissa Nasution baru saja menjalani operasi fetal surgery. Apakah itu dan apa risikonya?

Klikdokter.com, Jakarta Kabar duka datang dari artis Marissa Nasution. yang mulai meramaikan dunia hiburan Indonesia sejak tahun 2007. Unggahan terkini di laman Instagram Marissa menyebutkan bila salah satu dari dua bayi kembar yang dikandungnya meninggal setelah menjalani fetal surgery di Singapura.

Teknologi kedokteran yang semakin maju memungkinkan diagnosis kelainan bawaan lahir yang lebih dini dan lebih akurat. Atas dasar inilah, berkembang tindakan intervensi atau terapi pada janin yang disebut dengan fetal surgery.

Istilah fetal surgery memang jarang terdengar. Tetapi ternyata, operasi ini cukup sering dilakukan oleh dokter kebidanan dan kandungan yang telah mengambil sub-spesialisasi feto-maternal atau ahli dalam hal kesejahteraan ibu dan janin.

Mengenal fetal surgery

Fetal surgery atau operasi janin merupakan terapi bedah untuk memperbaiki kelainan bawaan pada janin sebelum dilahirkan. Jadi, tindakan koreksi/pengobatan dilakukan saat janin masih berada di dalam kandungan ibu. Dengan menggunakan alat-alat bedah canggih dengan teknologi khusus, operasi ini mampu mengoreksi kelainan bawaan yang ada sejak dini.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Secara umum, terdapat tiga teknik operasi untuk memperbaiki kelainan janin yang masih berada di dalam kandungan, yaitu:

  1. Open fetal surgery

Operasi janin terbuka atau open fetal surgery merupakan tindakan menyayat  pada rahim besar, agar dapat melakukan tindakan pada janin.

  1. Minimally invasive fetoscopic surgery

Sayatan pada rahim kecil, untuk selanjutnya dipandu oleh kamera (fetoskopi) dan USG guna melakukan pembedahan.

  1. Percutaneous fetal therapy

Tindakan ini menggunakan kateterisasi dengan panduan USG untuk mengoperasi janin.

Saat ini, tindakan operasi pada janin lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kelainan anatomi seperti masalah pada katup jantung, kelainan paru, menghilangkan sumbatan pada saluran kemih, atau mengoreksi kelainan saraf.

Di luar negeri, misalnya Amerika Serikat, tindakan koreksi pada kelainan-kelainan tersebut dapat bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin, serta meningkatkan peluang melahirkan bayi yang sehat dan relatif normal.

Pada kasus kehamilan kembar seperti Marissa, fetal surgery biasanya dilakukan untuk mengatasi twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS), dimana aliran darah dan nutrisi pada janin yang satu lebih banyak dari janin yang lain.

Operasi yang dilakukan sesungguhnya untuk mengoreksi kelainan pembuluh darah yang menyebabkan salah satu janin memiliki berat lebih besar daripada saudara kembarnya.

Pada kasus TTTS, tidak ada batasan khusus mengenai waktu yang tepat untuk melakukan fetal surgery. Namun pada umumnya, tindakan ini dilakukan pada trimester dua kehamilan.

2 dari 3 halaman

Risiko Fetal Surgery yang perlu Anda tahu

Sama seperti operasi pada umumnya, fetal surgery pun memiliki banyak risiko, baik pada janin maupun ibu. Tindakan yang bermanfaat untuk janin dapat membahayakan ibu. Sebaliknya, tindakan yang bermanfaat bagi ibu dapat berdampak negatif terhadap proses kehamilan dan janin.

Risiko pada ibu dapat berupa ketuban pecah dini, melahirkan secara prematur, infeksi pada luka operasi, infeksi selaput ketuban, perdarahan, lepasnya plasenta, mengalami komplikasi sehingga rahim akhirnya harus diangkat, kerusakan organ sekitar rahim hingga kematian.

Fetal surgery tidak selalu dapat memperbaiki kualitas hidup janin. Malah, risikonya sangat besar bagi sang ibu, kendati sampai saat ini belum ada laporan adanya kematian ibu akibat tindakan ini. Oleh karena itu, bila pada akhirnya fetal surgery menjadi pilihan, risiko dan manfaatnya benar-benar harus dipertimbangkan dan didiskusikan bersama-sama oleh tim medis dan ibu hamil beserta pasangan.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar