Sukses

Efek Positif Mengidolakan Artis pada Kesehatan Mental

Penelitian membuktikan bahwa ternyata mengidolakan seseorang berpengaruh pada kesehatan mental.

Klikdokter.com, Jakarta Dunia panggung hiburan Indonesia kini tengah diramaikan oleh beberapa kompetisi menyanyi, salah satunya adalah Indonesian Idol. Para penonton yang mengidolakan kontestan favoritnya memenuhi studio untuk mendukung idolanya. Fenomena ini nyatanya memiliki efek positif terhadap kesehatan mental para fan yang mengidolakan kontestan yang tampil.

Menurut Profesor Cornel Sandvoss dalam bukunya yang berjudul Fans: The Mirror of Consumption, para fan lewat komunitasnya, dapat belajar berinteraksi dan saling memengaruhi dengan cara yang mengejutkan.

Paul Booth, seorang Profesor di DePaul University pun menjelaskan, bahwa dengan mengidolakan seseorang, Anda dapat memiliki wadah untuk mengekspresikan dan mengeluarkan emosi Anda, jauh lebih banyak daripada biasanya.

Mengidolakan seseorang, dalam psikologi ternyata juga masuk ke dalam kategori individualisasi. Hal ini dijelaskan oleh seorang terapis bernama Lisa Bahar. Baginya, fenomena ini dapat membantu seseorang belajar bagaimana tidak terlalu bergantung pada orang lain dan lebih berani dalam hal pengambilan keputusan yang sehat, karena berani memilih.

1 dari 3 halaman

Bikin lebih bahagia

Para ilmuwan menganggap bahwa mengidolakan seseorang mencakup perasaan keterlibatan dan identifikasi. Ketika para penggemar – yang mengidolakan artis yang sama – bertemu, ada perasaan bahwa mereka seperti menemui saudara. Rasa memiliki yang sama ini, bisa menghindarkan mereka dari depresi.

Ketika Anda bertemu dengan orang lain yang sama-sama menyukai hal yang Anda minati, hal ini dapat menghindarkan Anda dari kesepian. Selanjutnya yang terjadi adalah semacam perasaan menemukan kehangatan dan kebahagiaan.

Dr. Laurel Steinberg yang merupakan psikoterapis dan psikolog di Columbia University mengatakan bahwa sebuah kelompok penggemar dapat membantu remaja untuk terhubung dengan remaja lainnya yang berpikiran sama, baik di konser maupun sekadar lewat media sosial.

“Menghubungkan dengan orang-orang dengan hasrat dan minat yang sama, baik untuk kesehatan mental dan emosional, dapat membantu menciptakan rasa aman seperti persaudaraan atau keluarga. Karena topik yang dikeluarkan akan selalu diterima dengan baik,” ucap Steinberg seperti dilansir dari Teen Vogue.

Tak hanya itu, berdasarkan ilmu kedokteran, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid., dari Klikdokter menjelaskan bahwa saat seseorang bertemu dengan idolanya, tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin yang kemudian akan memunculkan rasa bahagia.

2 dari 3 halaman

Tetap harus dikontrol

Mengidolakan seseorang – misalnya seorang artis – memang memiliki manfaat positif bagi kesehatan mental. Meskipun demikian, Anda tetap harus mengontrol rasa kagum yang Anda miliki.

Lisa Bahar berpesan, saat Anda memilih seorang idola, pastikan kekaguman tersebut tidak berubah menjadi obsesi. Ketika apa yang Anda lakukan sudah mulai mengganggu kualitas hidup seseorang – khususnya kehidupan Anda sendiri – artinya Anda telah terobsesi.

Jika Anda ingat, pada saat Zayn Malik memutuskan keluar dari kelompok musik One Direction pada Maret 2015, seluruh penggemarnya yang tersebar di seluruh negara merasakan kesedihan yang berlebihan. Mereka bahkan beramai-ramai mengunggah video wujud kesedihan sambil berteriak-teriak.

Tidak perlu berlebihan

 

Menurut dr. Resthie, mengidolakan seseorang merupakan bagian dari defense mechanism yang disebut introjections. Defense mechanism atau mekanisme pertahanan adalah strategi psikologis seseorang yang secara tidak sadar digunakan untuk melindungi orang tersebut dari kecemasan yang timbul karena perasaan tidak diterima.

Bahkan, ketika Anda mengidolakan seseorang sampai berpenampilan menyerupai idolanya, Anda bisa saja melakukannya karena tidak percaya diri atau memiliki memori negatif di masa lalu.

Meski demikian, dr. Resthie berpesan, saat mengidolakan seseorang, ada baiknya jangan terlalu berlebihan. Karena dapat menyebabkan perasaan sedih yang mendalam hingga kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri.

“Saat menggemari seseorang secara berlebihan, biasanya jati diri artis akan menempel pada jati diri penggemar. Jadi, ketika terjadi sesuatu dengan artis tersebut, maka si penggemar bisa jadi kehilangan jati diri,” jelasnya.

Jadi, mengidolakan seseorang memang sah-sah saja, apalagi jika terbukti bermanfaat bagi kesehatan mental. Meski demikian, sebagai fan Anda harus dapat mengendalikan diri agar terhindar dari risiko mengganggu hidup orang lain, atau justru merusak kesehatan mental sendiri. Maka, mengidolakanlah dengan sewajarnya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar