Sukses

Kecelakaan Lalu Lintas Juga Termasuk Masalah Kesehatan

Terjadi kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang. Kecelakaan lalu lintas merupakan 10 besar penyebab kematian terbanyak.

Klikdokter.com, Jakarta Sabtu (10/2/2018) sore kemarin, warganet dikagetkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. Hingga berita ini ditulis, kecelakaan yang melibatkan satu bus pariwisata dan satu sepeda motor ini telah menelan 27 korban jiwa. Semua korban jiwa adalah wanita.

Menurut laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) tahun 2014, kecelakaan lalu lintas menempati peringkat ke-8 penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Lebih lanjut lagi, akhir 2017 lalu Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan bahwa di Asia Tenggara, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia menempati peringkat keempat setelah Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Di Indonesia, jumlah korban kecelakaan yang meninggal rata-rata 28.000-30.000 jiwa per tahun. Dengan kata lain, ada satu orang yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas setiap tiga jam.

Sesuai dengan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia yang dimuat dalam Global Report on Road Safety 2015, korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas terbanyak dialami oleh pengendara sepeda motor (36%), diikuti oleh penumpang bus angkutan umum (35%), dan pejalan kaki (21%). Untuk pengemudi dan penumpang kendaraan pribadi tergolong kecil, hanya 1%.

Kecelakaan lalu lintas, masalah kesehatan serius

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kecelakaan lalu lintas menjadi isu yang penting karena kerap merenggut nyawa mereka yang masih dalam usia produktif. Berdasarkan laporan WHO, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama pada individu berusia 15-29 tahun.

Dengan meninggalnya anggota keluarga usia produktif, yang kerap menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, keluarga yang ditinggalkan menjadi lebih rentan terhadap kemiskinan. Dan seiring berjalannya waktu, mereka rentan pula mengalami berbagai masalah kesehatan.

Korban kecelakaan yang hidup namun cacat juga bisa menjadi beban keluarga, karena biaya pengobatan yang tidak sedikit. Dalam lingkup yang lebih besar, dapat pula menurunkan produktivitas suatu negara. Pendapatan domestik bruto (PDB) negara yang hilang akibat kecelakaan lalu lintas diperkirakan mencapai 2,9%-3,1% per tahunnya, atau setara dengan Rp205-220 triliun.

Perlu kerjasama lintas sektoral

Diketahui bahwa penyebab kecelakaan lalu lintas 61% berhubungan dengan faktor manusia. Ini berhubungan dengan kemampuan dan karakter pengemudi. Kondisi medis tertentu, penggunaan narkoba, dan konsumsi alkohol juga dapat memengaruhi pengemudi. Faktor prasarana dan lingkungan seperti kondisi jalanan, kurangnya lampu penerangan jalan atau rambu-rambu lalu lintas yang jelas menyumbangkan 30%, dan sisanya 9% disebabkan oleh faktor kendaraan apakah laik jalan atau tidak.

Kembali ke kasus kecelakaan maut di Tanjakan Emen, rem bus yang blong ditengarai menjadi penyebab, meski telah lolos pengujian berkala kendaraan bermotor (uji KIR). Ini menimbulkan pertanyaan, apakah betul bus tersebut benar-benar menjalani uji KIR yang sesungguhnya. Karenanya, faktor lain yang tak kalah penting yakni adanya undang-undang lalu lintas yang jelas, serta penegakan sanksi yang tegas bagi mereka yang melakukan pelanggaran.

Belajar dari kasus kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Emen, Anda sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih bus angkutan umum yang akan ditumpangi. Selain memperhatikan apakah bus angkutan telah mendapatkan sertifikat lolos uji KIR, penting untuk mencari tahu apakah pengemudi berstatus karyawan atau telah mengikuti pelatihan keamanan mengemudi dan mendapatkan sertifikat, atau terlihat dalam kondisi sehat atau tidak. Bepergian dengan moda transportasi bus, apalagi dilakukan bersama teman-teman, memang bisa menyenangkan. Namun, jangan sampai lengah dan harus tetap menomorsatukan keamanan dan keselamatan.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar