Sukses

Kenali Aorta Dissection dari Gejalanya

Gejala aorta dissection sering kali sulit dikenali karena mirip dengan gangguan jantung yang lain. Apa saja gejalanya?

Klikdokter.com, Jakarta Sebelum mengetahui apa itu aorta dissection (aortic dissection atau diseksi aorta), mari ketahui terlebih dahulu mengenai aorta. Aorta merupakan arteri terbesar dalam tubuh. Aorta berasal dari jantung dan tugas utamanya adalah memasok darah ke seluruh tubuh melalui cabang arteri.

Penyakit pada aorta dapat menyebabkan penyempitan dan penggelembungan arteri yang abnormal. Salah satu penyakit yang terkait dengan kondisi ini adalah diseksi aorta.

Dikatakan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid., diseksi aorta merupakan kondisi robeknya lapisan dinding pembuluh darah aorta. Penyakit ini dapat menyebabkan darah bocor dan keluar dari dinding pembuluh darah, sehingga berbagai organ dalam tubuh akan kekurangan pasokan darah.

Diseksi aorta merupakan sebuah kondisi gawat darurat, karena risiko komplikasinya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian dengan cepat. Diagnosis diseksi aorta akut harus cepat supaya dapat segera menentukan pendekatan terapi.

Faktor risiko diseksi aorta

Sebetulnya diseksi aorta ini relatif jarang terjadi. Kondisi ini paling sering terjadi pada pria berusia 60-70-an. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan diseksi aorta terjadi pada usia di bawah 60 tahun, khususnya pada orang-orang berusia 40-an yang pernah didiagnosis mengalami aterosklerosis atau penyempitan dan penebalan dinding pembuluh darah arteri.

Gejala diseksi aorta mirip seperti penyakit lain, yang sering kali menjadi penyebab terlambatnya diagnosis. Padahal, jika diseksi aorta dapat dideteksi secara dini dan segera diobati, harapan hidup penderita akan sangat meningkat.

Selain faktor usia dan tekanan darah tinggi (hipertensi), ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko diseksi aorta. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernah mengalami cedera di bagian dada, dan penyempitan pembuluh darah aorta bisa menjadi pemicu timbulnya ganggua aorta ini.

Beberapa faktor risiko lain yang juga berpengaruh antara lain adanya sindrom Marfan (kelainan genetik jaringan ikat), riwayat operasi di sekitar jantung, kadar kolesterol yang tinggi, peradangan pada pembuluh darah arteri, diabetes, dan sindrom Turner (kelainan genetik pada wanita karena kehilangan satu kromosom X).

Kenali gejalanya sejak dini

Gejala diseksi aorta serupa dengan gangguan jantung lainnya, misalnya serangan jantung. Karena begitu pentingnya deteksi dini kondisi diseksi aorta bagi kelangsungan hidup penderita, maka kenali gejala-gejalanya, antara lain:

  • Sakit pada bagian dada atau punggung bagian atas secara tiba-tiba. Rasa sakit ini sering diumpamakan seperti rasa sakit akibat tercabik atau robek atau disayat pisau, yang memancar ke arah leher atau punggung.
  • Nyeri hebat pada area abdomen/ perut secara tiba-tiba.
  • Hilang kesadaran.
  • Napas pendek.
  • Tiba-tiba merasa kesulitan untuk berbicara, kehilangan penglihatan, merasa lemah atau lumpuh pada satu bagian tubuh. Gejala ini mirip dengan gejala strok.
  • Denyut nadi yang lebih lemah pada satu sisi tangan.
  • Sakit pada kaki.
  • Sulit berjalan.
  • Kelumpuhan pada kaki

Cegah diseksi aorta dengan melakukan hal-hal ini

Menurut dr. Resthie, untuk mencegah terjadinya diseksi aorta, para penderita hipertensi dianjurkan untuk selalu mengontrol tekanan darahnya dengan baik. Tekanan darah yang dianggap baik adalah bila tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 90 mmHg.

Supaya tekanan darah selalu terkontrol, beberapa hal yang perlu Anda lakukan antara lain:

  • Mengatur pola makan dengan baik. Banyak mengonsumsi makanan tinggi serat, membatasi garam, dan mengurangi asupan berlemak.
  • Melakukan latihan jasmani dengan teratur, setidaknya lima kali seminggu dengan durasi 30 menit per hari.
  • Mengonsumsi obat antihipertensi sesuai petunjuk dokter.
  • Kontrol ke dokter setiap 3-6 bulan sekali, atau sesuai dengan anjuran dokter.
  • Menghindari rokok dan paparan asap rokok.

Jika Anda mengalami gejala seperti sakit parah di bagian dada, pingsan, sesak napas secara tiba-tiba atau merasa mengalami gejala strok, segera hubungi nomor layanan ambulans untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin. Memang ada kemungkinan gejala-gejala tadi tidak mengindikasikan aorta dissection – seperti  yang dialami Dahlan Iskan – atau  masalah kesehatan serius lainnya, tapi sebaiknya tetap diperiksa secara cepat. Deteksi dan pengobatan dini yang diberikan oleh dokter dapat menyelamatkan hidup Anda.

[RVS]

1 Komentar

  • Zuarni M Nali

    sy umur 65 Th penjumbatan nja banjak Dr bilang hanja di Bifas atau di oprasi besar pasang Cincin gak bisa sy sudah jalanin pemeriksaan Dr bilang epek samping nja terlalu besar resiko nja jadi sy mundur tdk siap untuk di Bifas tlmg sulusi nja bgi mana trks