Sukses

Mengenal Gejala HIV Tahap Lanjut

Gejala HIV tahap lanjut biasanya lebih berat, sehingga perlu penanganan khusus.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak orang gentar ketika mendengar tentang penyakit HIV. Ini karena gejala HIV dapat muncul tanpa diketahui, hingga akhirnya kondisi tubuh penderita sudah terlanjur parah. Faktor risiko penularannya pun membuat penyakit HIV sering mendapat stigma atau pandangan buruk di masyarakat.

HIV alias Human Immunideficiency Virus merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui darah, penggunaan jarum suntik, hubungan seksual, serta dari ibu ke bayi saat persalinan. Saat masuk ke dalam tubuh, virus ini akan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga bisa menyebabkan penderitanya mudah terserang penyakit lain.

Infeksi HIV yang sudah menimbulkan gangguan sistem kekebalan tubuh berat atau masuk ke tahap lanjut disebut sebagai AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome.

AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya daya tahan tubuh akibat infeksi virus HIV. Jadi, tidak semua infeksi HIV akan berlanjut menjadi AIDS. Tetapi, semua kasus AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

Yuk, kenali gejala HIV

Gejala HIV memiliki spektrum yang luas. Mulai dari infeksi awal (infeksi akut), HIV asimtomatik (tanpa gejala), dan HIV stadium klinis (menunjukkan gejala fisik).

Saat infeksi akut, gejalanya tidak khas dan cenderung seperti infeksi virus pada umumnya––yaitu demam, badan pegal, nyeri sendi, dan sakit kepala. Setelah itu, masuk ke tahap gejala HIV asimtomatik, dimana penderitanya tidak mengalami gejala apa pun. Periode gejala HIV asimtomatik dapat berlangsung selama lima hingga sepuluh tahun. Kemudian, jika kekebalan tubuh terus menurun, maka mulailah timbul gejala HIV infeksi fisik atau yang disebut dengan HIV stadium klinis.

1 dari 2 halaman

Bagaimana gejala HIV tahap lanjut?

Pada gejala HIV tahap lanjut, sebagian besar penderita akan sulit melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain, dan lebih banyak menghabiskan waktu terbaring di tempat tidur.

Pada tahap ini, gejala HIV yang tampak menjadi lebih berat, ditambah dengan berbagai infeksi oportunistik––yaitu infeksi akibat kuman yang tidak akan menyebabkan penyakit pada orang dengan daya tahan tubuh baik, namun mengakibatkan penyakit pada mereka yang kekebalan tubuhnya lemah.

Beberapa kondisi yang termasuk gejala HIV tahap lanjut, di antaranya:

1. Penurunan berat badan secara drastis dan dalam waktu cepat, yaitu sekitar 10% atau lebih dari pengukuran sebelumnya. Pada tahap akhir, dapat terjadi HIV wasting syndrome dimana penderitanya tampak sangat kurus dan lemah.

2.    Buang air besar cair (diare) yang berlangsung terus-menerus selama satu bulan.

3.    Demam yang menetap selama satu bulan.

4.    Sariawan yang menetap.

5.    Infeksi tuberkulosis di paru dan organ tubuh di luar paru (kelenjar getah bening, sistem saraf).

6.    Infeksi bakteri yang berat di paru, selaput otak, tulang, dan sendi.

7.    Sarkoma kaposi, yaitu tumbuhnya jaringan tumor di kulit dan rongga mulut.

8.    Gangguan kesadaran.

9.    Pada pemeriksaan laboratorium terdapat penurunan jumlah sel darah merah (anemia), sel darah putih, dan keping darah (trombosit).

Banyak yang mengira, saat seseorang sudah mencapai HIV tahap lanjut atau AIDS artinya sudah menjelang akhir hidupnya. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Ini karena jumlah antibodi dalam tubuh penderita HIV dapat ditingkatkan dengan pengobatan antiretroviral (ARV) dan penanganan infeksi oportunistik yang tepat.

Tidak dimungkiri, gejala HIV memang dapat hadir tanpa disadari dan dapat menular ke siapa saja. Namun bukan berarti Anda harus menjauhi orang-orang yang terkena penyakit ini. Sudah saatnya menyingkirkan pandangan negatif tentang HIV AIDS dari pikiran, dan jadilah rekan bagi para penderita HIV tahap lanjut. Dukungan dari orang di sekitar dan keluarga akan membuat pasien HIV AIDS tetap semangat dalam menjalani hidup.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar