Sukses

Ini Beda Gejala HIV pada Wanita dan Pria

Virus HIV memang dapat terjadi pada siapa saja, baik wanita maupun pria. Kenali perbedaan gejala HIV pada wanita dan pria.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit HIV (Human Immunideficiency Virus) menyerang sistem kekebalan tubuh manusia lewat infeksi, baik oleh bakteri, virus, jamur, parasit maupun organisme lainnya yang disebut infeksi oportunistik. Dari segi gejala HIV, Anda juga perlu tahu perbedaannya antara pria dan wanita.

Gejala HIV sendiri masih terkesan menyeramkan di kalangan masyarakat. Meski demikian, ada banyak penyuluhan dan edukasi yang diberikan oleh berbagai pihak dari pemerintah, tenaga medis, hingga lingkungan sekolah.

Bahkan, warga melalui  media cetak maupun media online masih kerap melakukan edukasi guna menghindari terjangkitnya HIV, sehingga risiko penularan dan tingkat terjangkitnya penyakit ini akan berkurang.

Penularan dan gejala HIV

Seperti diketahui virus HIV menular melalui kontak dengan darah pasien yang terinfeksi. Penularan bisa melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, tinta tato, hubungan seksual bebas, penularan secara langsung dari ibu hamil kepada janin yang di kandungnya dan sebagainya.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melemahkan virus ini. Tidak adanya gejala bukan berarti virus ini telah pergi dari tubuh. Pada akhirnya yang paling menyeramkan dari virus HIV adalah terjadinya penyakit AIDS atau yang merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.

Penyakit ini adalah kumpulan dari gejala penyakit yang terjadi karena melemahnya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV, sehingga dapat mengancam nyawa dan mengakibatkan kematian.

Gejala awal pada kasus HIV adalah munculnya keringat berlebihan di malam hari, tubuh menggigil atau demam lebih dari beberapa minggu, batuk atau sakit saat menelan karena peradangan atau infeksi di tenggorokan, hingga diare kronis yang tak kunjung sembuh.

Selain itu, seseorang yang terjangkit HIV juga akan timbul sariawan di rongga mulut yang berulang, sakit kepala, rasa lelah terus menerus, berat badan turun secara drastis, ditemukan bengkaknya kelenjar getah bening terutama di leher dan sebagainya.

Secara umum, fase awal gejala HIV sering kali dianggap remeh dan mudah diabaikan. Akan tetapi hal ini sebenarnya memiliki potensi menularkan kepada orang lain. Berdasarkan US Department of Health and Human Services, pada sebagian orang gejala HIV mulai tampak 2 minggu setelah terpapar.

Namun, bagaimanapun juga gejala sebuah penyakit dapat bervariasi pada setiap orang. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan secara menyeluruh oleh tenaga medis.

1 dari 2 halaman

Perbedaan gejala HIV pada wanita dan pria

Mengenai perbedaan gejala HIV pada wanita dan pria, perlu diketahui bahwa pada kedua genre tersebut memiliki peluang yang sama tentang adanya keluhan penyakit ini.

Namun pada wanita, gangguan reproduksi akibat virus ini dapat terjadi seperti gangguan siklus haid, infeksi radang panggul bahkan kemungkinan terkenanya kanker serviks.

Akan tetapi, jika dilihat dari faktor risiko penyakit, jenis pekerjaan yang paling sering terpapar virus ini adalah tenaga medis. Sebab baik dokter maupun perawat sering kali harus berurusan langsung dengan pasien terinfeksi dan bersentuhan pada alat-alat medis, termasuk jarum suntik saat mengambil darah.

Selain itu, kelompok pencinta sesama jenis (terutama pada pria) juga berisiko lebih tinggi terinfeksi virus ini. Hal ini dikarenakan hubungan seksual yang dilakukan dengan cara anal seks sangat berisiko tinggi. Seperti diketahui, anus merupakan salah satu bagian tubuh yang paling banyak mengandung kuman.

Selain itu juga sering ditemukan Oral candidiasis (jamur pada rongga mulut) karena adanya hubungan seksual secara oral yang kurang higienis.

Selain itu, terdapat pula profesi yang memiliki risiko yang tinggi tertular penyakit ini, misalnya pekerja seks komersial. Selain faktor higienitas, kebiasaan berganti pasangan, baik menggunakan pengaman atau tidak, akan menimbulkan risiko terinfeksi lebih yang besar, dibandingkan mereka yang tidak.

Untuk gejala HIV sendiri, karena adanya hubungan seksual yang tidak sehat ini, tidak sedikit yang mengeluhkan adanya luka pada organ vital mereka. Dan salah satunya adalah adanya gejala infeksi menular seksual.

Apabila gejala HIV/AIDS ini dapat dideteksi secara dini, sebenarnya dapat diobati dengan menjaga sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa memperlambat perkembangan aktif virus. Hasilnya, tubuh  dapat terlindungi dari serangan berbagai infeksi yang disebut dengan antiretroviral (ARV).

Namun, memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan yang terpenting adalah menghindari faktor risiko dari timbulnya gejala HIV. Serta, jangan pernah takut untuk memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala seperti di atas.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar