Sukses

Tingkat Bunuh Diri di Kalangan LGBT Lebih Tinggi?

Berdasarkan penelitian, angka kasus bunuh diri lebih tinggi di kalangan LGBT.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari ini publik dikejutkan dengan rumor Sam Smith, penyanyi kondang asal Inggris yang telah melamar pasangan sesama jenisnya, Brandon Flynn. Pelantun lagu I’m Not The Only One ini dikabarkan akan menikah di Australia, yang memang merupakan salah satu negara yang melegalkan pernikahan LGBT. Terlepas dari kabar bahagia itu, sebuah penelitian justru mengungkapkan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan LGBT cenderung lebih tinggi.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention, bunuh diri merupakan penyebab kedua kematian di kalangan remaja usia 15-24 tahun. Bunuh diri juga menjadi penyebab ketiga kematian tertinggi di kalangan anak usia 10-14 tahun.

Pada penelitian yang dipublikasikan di Journal of Homosexuality, risiko atau kecenderungan bunuh diri di kalangan LGBT 2-7 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok heteroseksual.

Studi lain yang dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine, menemukan hal yang sama. Kasus depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan obat-obatan cenderung 1.5 kali lebih tinggi di kalangan LGBT, serta dapat berujung pada percobaan bunuh diri. Risiko ini pun lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Penelitian ini dilakukan terhadap responden usia 20-30 tahun.

Secara umum, faktor-faktor risiko bunuh diri (yang ditemukan beberapa dekade belakangan ini) meliputi riwayat keluarga yang bunuh diri, perlakuan tertentu saat masa kecil, penyalahgunaan obat terlarang, perasaan tidak berdaya yang kronis, dan memiliki “akses” untuk memudahkan tindakan bunuh diri (semisal kepemilikan senjata). Memiliki penyakit kejiwaan tertentu seperti skizofrenia, depresi, kepribadian anti sosial, dan sebagainya juga menjadi faktor risiko bunuh diri.

Di kalangan LGBT, faktor-faktor risiko bunuh diri diduga karena adanya stigma tertentu di masyarakat, kurang atau tidak ada dukungan dari keluarga dan orang terdekat. Faktor yang berpengaruh lainnya adalah bullying dari lingkungan sekitar, atau korban pelecehan (fisik dan verbal) karena menjadi minoritas di masyarakat.

Oleh karena itu, pada penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry disebutkan bahwa hubungan positif dengan kedua orangtua serta dukungan dari lingkungan sekitar (pertemanan, sekolah, atau pekerjaan) sangat penting untuk mencegah kasus bunuh diri.

Meski demikian, entah itu kalangan LGBT seperti Sam Smith dan pasangannya atau bukan, Anda perlu peka akan tanda-tanda bunuh diri pada orang-orang di sekitar. Jangan anggap sepele tanda-tanda tersebut dan segeralah carikan pertolongan.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar