Sukses

Difteri Juga Incar Orang Dewasa, Waspadalah!

Hati-hati, difteri tidak hanya menyerang anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Klikdokter.com, Jakarta Sejak Januari-November 2017, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mencatat timbulnya kejadian luar biasa difteri. Kondisi tersebut terjadi di 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi di Indonesia. Secara keseluruhan, ada 622 kasus dengan 32 jumlah kematian akibat difteri. Sebagian besar berasal dari kelompok usia 5-9 tahun.

Memang belum ada laporan resmi dari Kemenkes terkait jumlah orang dewasa yang terinfeksi difteri. Namun disinyalir jumlahnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini mudah menular melalui droplet (partikel cair) saluran napas yang keluar saat seseorang bersin atau batuk. Penularan bisa dari penderita maupun karier (pembawa) penyakit yang tampak sehat.

Masa inkubasi penyakit difteri rata-rata 2-5 hari dengan rentang 1-10 hari. Gejala awalnya bisa tidak spesifik. Oleh karena itu, Anda perlu waspada bila mengalami demam ringan dan menggigil, nyeri saat menelan atau sakit tenggorokan, batuk, suara serak, nafsu makan menurun, dan rasa lemas.

Jangan pula anggap sepele lendir hidung kuning kehijauan yang keluar bisa disertai darah, pembesaran kelenjar getah bening pada leher, dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bull neck.

Ciri khas infeksi difteri, yaitu terbentuknya selaput tebal berwarna putih keabuan di tenggorok atau hidung. Selaput ini dapat membuat seseorang menjadi sulit bernapas. Jika tidak segera ditangani, penderita bisa mengalami gagal napas yang berujung pada kematian.

Racun yang dikeluarkan oleh kuman difteri juga dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan gangguan serius. Gangguan serius itu antara lain peradangan otot jantung (miokarditis), kelainan saraf (polineuropati), hingga gagal ginjal.

1 dari 2 halaman

Pentingnya imunisasi

Di sebagian besar negara, penyakit difteri sudah jarang terjadi. Bahkan di Indonesia, penyakit ini hampir tidak ada sejak tahun 1990-an. Namun pada tahun 2009, kasus difteri kembali muncul.

Salah satu penyebabnya adalah adanya kelompok populasi dewasa yang kerap terabaikan, namun rentan mengalami dan menjadi sumber penyebaran difteri. Kelompok populasi ini adalah mereka yang tidak pernah menerima imunisasi dasar sewaktu kecil atau belum mendapatkan imunisasi DPT ulangan (booster). DPT singkatan dari difteri, pertusis, dan tetanus.

Populasi dewasa yang sudah mendapatkan imunisasi dasar pun tetap bisa terinfeksi difteri jika tidak melakukan imunisasi ulangan (booster) saat dewasa. Sebab, kadar antibodi terhadap difteri akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Sejalan dengan hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan imunisasi primer DPT pada yang belum sama sekali, atau imunisasi DPT ulangan setiap 10 tahun pada yang sudah mendapatkan imunisasi dasar.

Harus diakui bahwa program imunisasi dewasa di Indonesia masih belum menjadi prioritas, sehingga gaungnya kurang terdengar. Tetapi sebenarnya imunisasi tersebut bisa Anda dapatkan di berbagai fasilitas kesehatan. 

Meski banyak menyerang anak-anak, difteri juga bisa menginfeksi individu dewasa yang rentan. Bahkan, angka kematiannya pada individu dewasa di atas 40 tahun sama tingginya dengan balita, yaitu lebih dari 20 persen. Oleh karena itu, Anda harus waspada dan segera melakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar