Sukses

Di Bagian Otak Mana Dorongan Korupsi Muncul?

Bagian otak tertentu ternyata berhubungan dengan perilaku korupsi.

Klikdokter.com, Jakarta Mengapa sebagian orang lebih cenderung melakukan korupsi? Apakah ada bagian otak tertentu yang bertanggung jawab terhadap perilaku menyimpang itu?

Sejak lama, para ilmuwan telah mencoba mencari tahu jawaban dari kedua pertanyaan tersebut. Mereka berusaha menemukan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa seseorang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial.

Alhasil, pada tahun 2014, sebuah penelitian dari Tiongkok menyatakan bahwa jawabannya mungkin ada di bagian otak kiri manusia. Penelitian ini telah dimuat di dalam jurnal Frontiers in Behavioural Neuroscience.

Mereka menemukan bagian otak yang aktif ketika seseorang menerima suap. Aktivitas otak pun semakin intens seiring dengan semakin besarnya jumlah uang yang ditawarkan. Tim peneliti ini dimotori oleh Profesor Li Shu dari Institut Psikologi, Chinese Academy of Sciences.

Sebanyak 28 sukarelawan, 15 wanita dan 13 pria dengan rentang usia 22-28 tahun diteliti. Seluruhnya telah menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana, berada dalam kondisi sehat lahir batin, serta tidak ada riwayat gangguan jiwa maupun saraf.

Mereka ditempatkan ke dalam mesin pindai otak (magnetic resonance imaging/MRI) sambil mengikuti permainan yang disebut dengan ultimatum game. Masing-masing individu kemudian ditawarkan sejumlah uang yang nilainya meningkat secara bertahap, dari 8 yuan (setara Rp 16.000,00) hingga 3,000 yuan (setara Rp 6.000.000,00).

Di setiap penawaran, mereka mendapat pertanyaan: apakah mereka mau menerima suap? Jika menekan tombol ‘ya’, maka mereka akan mendapatkan sejumlah komisi. Jika ‘tidak’ maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penawaran uang yang bersifat tunai, berapapun jumlahnya, akan mengaktifkan area otak yang membuat seseorang merasa nyaman. Area tersebut yaitu korteks prefrontal lateral kanan di bagian depan otak dan korteks insular di bagian samping kedua belahan otak.

Lalu, ketika individu memutuskan untuk menerima suap, area girus frontal bawah di bagian depan otak kiri, tampak lebih aktif dibandingkan area lainnya. Area itu kurang lebih sedikit di atas pelipis. Semakin besar jumlah uang yang ditawarkan, semakin aktif pula girus tersebut.

Namun demikian, respons individu-individu tersebut tidak selalu sama untuk tawaran-tawaran bernilai tinggi. Individu dengan girus yang lebih aktif memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk mengorbankan keadilan dan kejujuran demi uang. Dengan kata lain, mereka lebih mudah disuap.

Hasil penelitian ini sedikit banyak memberikan titik terang mengapa seseorang lebih condong untuk korupsi dibandingkan yang lain. Meski demikian, diperlukan studi lanjut untuk mengonfirmasi hasilnya.

Dorongan korupsi tentu juga dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan kesehatan seorang individu. Jika benar ini bermula dari otak, maka dapat dicari alternatif cara untuk melawan dorongan untuk korupsi, termasuk melalui obat-obatan atau psikoterapi.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar