Sukses

Gemar Makanan Manis Saat Hamil, Ini Risikonya!

Sering konsumsi makanan manis saat hamil ternyata berdampak buruk bagi kesehatan ibu hamil dan janin.

Klikdokter.com, Jakarta Saat hamil, keinginan untuk makan makanan manis kerap sulit dibendung. Bahkan, makanan manis sering menjadi senjata untuk melawan rasa mual dan muntah di awal kehamilan.

Namun apakah ada risiko yang akan mengintai ibu hamil bila terlalu sering mengonsumsi makanan manis? Apakah kebiasaan tersebut juga dapat berdampak buruk terhadap janin?

Pada dasarnya, mengonsumsi makanan manis secara berlebihan berbahaya bagi semua orang, termasuk ibu hamil. Anda perlu tahu bahwa kalori yang dibutuhkan oleh ibu hamil pada kehamilan trimester pertama yaitu sekitar 2000 kalori per hari. Kemudian kebutuhan kalori meningkat menjadi 2200 kalori per hari pada kehamilan trimester ketiga.

Jika ibu hamil mengonsumsi kalori yang melebihi angka-angka tersebut, maka kalori akan disimpan dalam tubuh. Alhasil, ibu hamil berisiko mengalami obesitas. Sebagai informasi, obesitas saat hamil akan meningkatkan risiko diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional). Diabetes gestasional terjadi ketika kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu tinggi selama kehamilan.

Kadar gula dalam darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan masalah bagi ibu hamil dan janin. Bahkan, ibu hamil akan memerlukan perawatan ekstra selama kehamilan bila mengalami diabetes gestasional.

Berikut ini adalah dampak buruk diabetes gestasional terhadap ibu hamil dan janin:

  1. Bayi memiliki berat lahir berlebihan

Glukosa ekstra di dalam aliran darah ibu hamil akan melewati plasenta. Hal itu akan memicu pankreas pada bayi untuk membuat insulin ekstra. Kondisi tersebut bisa menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar (macrosomia). Bayi yang sangat besar cenderung akan terjepit di jalan lahir, sehingga meningkatkan risiko cedera persalinan atau memerlukan persalinan dengan operasi caesar.

  1. Kelahiran sebelum waktunya

Gula darah yang tinggi pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko persalinan dini, dan melahirkan bayi sebelum tanggal lahir bayi yang seharusnya. Atau dokter mungkin saja menyarankan untuk persalinan dini karena ukuran bayi terlalu besar. Bayi yang lahir lebih awal mungkin mengalami sindrom gangguan pernapasan karena paru-paru yang belum matang.

  1. Gula darah rendah (hipoglikemia)

Ibu dengan diabetes gestasional memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi yang akan melewati plasenta. Hal tersebut dapat merangsang pembentukan insulin pada bayi baru lahir. Saat lahir, kadar gula dalam darah tiba-tiba menurun karena pasokan dari plasenta berhenti, padahal kadar insulin masih tinggi. Kondisi ini dapat memicu hipoglikemia pada bayi.

  1. Diabetes tipe 2 di kemudian hari

Bayi dengan ibu yang memiliki gestational diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Berbeda dengan diabetes tipe 1 atau diabetes tipe 2, diabetes gestasional akan hilang setelah bayi lahir. Meski demikian, Anda tetap perlu menjaga kesehatan tubuh dan janin selama hamil dengan mengonsumsi makanan yang sehat, dan tidak mengonsumsi makanan manis secara berlebihan.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar