Sukses

Kiat Tepat Toilet Training untuk si Kecil

Anda bingung bagaimana memulai toilet training untuk si Kecil? Coba kiat berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Toilet training merupakan metode pembelajaran, yang bertujuan agar anak bisa buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) pada tempatnya. Sesungguhnya, memberikan pelajaran ini pada si Kecil bukanlah perkara yang mudah. Karena itu, tidak sedikit orangtua yang menemukan masalah atau bahkan tiba-tiba menyerah dalam prosesnya.

Nah, agar Anda tidak menjadi salah satu orang tua yang demikian, berikut ini kiat tepat yang harus dilakukan agar toilet training pada anak berjalan dengan mulus:

1. Ketahui tahapan yang harus dilalui anak ketika ingin BAB atau BAK

Pertama-tama, anak harus merasakan adanya tekanan di kandung kemih atau rasa mulas. Lalu, ia harus menghubungkan perasaan itu dengan apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Berikutnya, ia belajar menanggapi tanda-tanda itu dengan ‘berlari’ menuju kloset atau pispot. Sesampainya di sana, ia harus tahu bagaimana cara melepas pakaiannya, cara memosisikan dirinya secara nyaman di pispot atau kloset, dan cara menahan keinginan ini.

Melihat kompleksnya tahapan-tahapan itu, tak heran jika masih banyak anak yang menggunakan popok hingga usia 3 tahun.

2. Ketahui rangkaian latihan mengontrol BAB dan BAK pada anak

Secara umum, tahapan untuk dapat mengontrol BAB dan BAK dimulai dengan mampu mengontrol BAB di malam hari, dilanjutkan dengan mampu mengontrol BAB di siang hari, mampu mengontrol BAK di siang hari, dan akhirnya mampu mengontrol BAK di malam hari.

Latihan BAB lebih dulu dilakukan karena otot-otot yang mengitari usus lebih ‘sabar’ dibandingkan otot-otot kandung kemih. Ketika anak merasakan dorongan untuk BAB, ia memiliki lebih banyak waktu untuk menanggapinya sebelum akhirnya mengotori popok atau celananya. Material padat juga lebih mudah dikendalikan daripada material cair. Sebaliknya, dorongan untuk pipis datangnya lebih mendadak, kuat dan sulit dikendalikan.

3. Lebih baik terlambat daripada terlalu dini

Ada pandangan bahwa semakin cepat anak menjalani toilet training, semakin baik pola asuh orangtuanya. Pandangan ini—yang sesungguhnya tidak benar—sering membuat orangtua ‘tertekan’ dan akhirnya memulai toilet training di kala anak belum siap.

Perlu diketahui bahwa saraf dan otot yang mengatur keluarnya tinja dan urin baru matang setelah anak mencapai usia 18-24 bulan. Oleh sebab itu, anak yang lebih lambat memulai toilet training akan lebih cepat menguasai dan mengendalikan dirinya dari keinginan untuk BAB atau BAK.

4. Pastikan si kecil siap untuk memulainya

Perhatikan anak Anda. Jika ia menunjukkan tanda-tanda berikut, artinya ia siap untuk memulai toilet training.

  • Meniru cara Anda menggunakan toilet
  • Mengutarakan keinginan untuk BAB dan BAK secara lisan
  • Mengerti perintah sederhana
  • Mulai mendorong celana/popok sampai lepas ketika basah atau kotor
  • Duduk di atas pispot atau kloset
  • Tidak BAB atau BAK di celana/popok setidaknya selama tiga jam
  • Mengamati alat kelaminnya

Amati pula tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia merasakan tekanan di dalam kandung kemih atau usus, seperti berjongkok, memegang celana/popok, menyilangkan kaki, wajah tampak sedang mengejan atau menyeringai, berlari ke sudut ruangan atau bersembunyi di belakang kursi. Semua ini menandakan bahwa si Kecil telah mencapai tahap perkembangan yang cukup matang untuk menyadari hal-hal yang sedang terjadi di dalam tubuhnya.

5. Pastikan Anda juga siap

Pilihlah waktu yang tepat untuk memulai toilet training. Yakni, ketika Anda tidak disibukkan dengan urusan lain, misalnya di saat anak yang lebih tua memiliki banyak kebutuhan, banyak tekanan dari pekerjaan, atau mendekati waktu Anda melahirkan anak berikutnya.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

6. Tunjukkan tempat yang harus dituju dan cara untuk menyebutnya

Gunakan pispot atau potty seat (dudukan kloset) khusus anak dalam latihan ini. Ketika anak ingin BAB atau BAK, beri tahu arah yang harus dituju dan ajarkan cara menyebutnya.

7. Ajari anak hubungan antara rasa ingin BAB atau BAK dan pergi ke toilet

Ungkapkan berulang-ulang pada si Kecil bahwa ketika ia merasakan sensasi ingin BAB atau BAK, maka itulah saatnya ia harus segera menuju toilet.

8. Gunakan alarm untuk mencegah ‘kebocoran’

Jika Anda tergolong orangtua yang risih dengan urine atau tinja yang berserakan, cegah ‘kebocoran’ dengan menggunakan alarm. Di hari-hari awal toilet training, Anda dapat menyetelnya setiap 30-45 menit sekali. Ketika alarm berbunyi, bawa si Kecil ke toilet untuk buang air. Lama-kelamaan, ia akan terbiasa bahwa BAB dan BAK harus di toilet. Biasakan pula agar anak BAK setiap sebelum, dan setelah bangun tidur siang maupun malam.

9. Gunakan celana yang mudah dilepas

Berikan anak celana berkaret longgar atau training pants yang dirancang khusus untuk toilet training. Yang penting, si Kecil tidak kesulitan untuk melepas celana tersebut.

10. Ajari anak untuk membasuh, menyiram, mengenakan celana dan mencuci tangan

Ajari anak cara membasuh alat kelamin yang benar, yaitu dari arah depan ke belakang. Ajari pula si Kecil untuk selalu menyiram kloset/pispot dan mencuci tangannya setiap selesai BAB atau BAk. Ini bertujuan untuk mencegah kuman yang menyebabkan penyakit infeksi.

Akan tetapi, Anda tak perlu berharap si Kecil dapat segera menguasai keterampilan ini. Sebagian besar anak baru terampil membasuh dan mengelap alat kelaminnya di usia 4-5 tahun.

11. Konsisten dan sabar

Konsistensi dan kesabaran merupakan kunci suksesnya toilet training pada anak. Sebagai contoh, hindari pemakaian popok sekali pakai ketika Anda harus bepergian. Ini akan membuat si Kecil bingung dan dapat membuatnya kembali memiliki kebiasaan ngompol.

Untuk mengakalinya, Anda dapat membawa botol kosong ke mana pun pergi. Selain itu, minta si kecil untuk BAK sebelum pergi, ketika baru tiba di tempat tujuan dan setiap jarak waktu tertentu (misalnya setiap 1-2 jam).

12.  Berikan pujian dan jangan pernah menghukum

Berikan pujian ketika anak berhasil tidak BAB atau BAK di celana. Jangan pula menghukum jika ia belum bisa. Anak dapat mengalami gangguan emosional yang serius jika Anda marah atau menghukum saat ia gagal atu belum mampu BAB/ BAK pada tempatnya.

Keberhasilan toilet training tergantung dari kerjasama antara individu yang melatih dengan yang dilatih, antara orang tua dan anak. Jika si Kecil belum mau dilatih, jangan dipaksakan. Pemaksaan akan berujung stres bagi keduanya, dan tujuan malah tidak tercapai. Selamat mencoba!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar