Sukses

Duel ala Gladiator, Bullying Perenggut Nyawa

Seorang siswa SMA di Bogor tewas setelah dipaksa mengikuti duel ala gladiator, salah satu jenis bullying yang harus diwaspadai semua pihak.

Klikdokter.com, Jakarta Remaja bernama Hilarius Christian Event Rahardjo itu telah berpulang. Siswa kelas X SMU Budi Mulia Bogor tewas pada Januari 2016, setelah mengalami bullying, dipaksa mengikuti duel ala gladiator di Taman Palupuh Bogor, oleh sejumlah oknum siswa lainnya.

Kasus yang sudah lewat setahun itu kembali ramai dibicarakan setelah ibu korban – Maria Agnes – mengunggah kasus kematian anaknya melalui sebuah akun Facebook dan mengadukannya kepada Presiden Jokowi. Kasus kekerasan terhadap siswa kelas X SMU Budi Mulia Kota Bogor itu langsung kembali viral di media sosial.

Kasus tidak pernah ditutup

Seperti dikutip dari liputan6.com polisi akhirnya berhasil menetapkan lima tersangka dalam kasus yang menewaskan Hilarius Christian Event Raharjo. Sedangkan dua yang lain masih dalam pencarian. Demikian menurut Direskrumum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana, Kamis (21/9/2017).

Menurut Umar, kelima tersangka ada yang sebagai promotor, ada yang duel dengan korban, ada yang menjadi wasit. Seorang tersangka berinisial AB juga sekaligus korban karena dia dipaksa berduel dengan korban, hingga menewaskan Hilarius. Baik AB maupun Hilarius tidak bisa menolak tekanan tersebut karena kalau menolak, keduanya dipukuli beramai-ramai.

Kombes Umar mengakui meskipun peristiwa tersebut terjadi pada Januari 2016, penyelidikan kasus tewasnya Hilarius tidak pernah dihentikan kepolisian.

Pada waktu itu, polisi baru mengetahui kasus tersebut satu bulan setelah tewasnya Hilarius. Polisi lalu menyelidiki ke lapangan dan akhirnya berhasil mengindentifikasi siapa korbannya, kemudian menemui orangtua korban.

Tradisi bullying perenggut nyawa

Hilarius tewas setelah dipaksa bertarung satu lawan satu dengan pelajar sekolah lain dan disaksikan oleh puluhan pelajar lainnya. Konon, pertarungan ala gladiator itu sudah menjadi tradisi dalam menghadapi event besar, kompetisi liga bola basket (DBL) antar pelajar, yang dimotori oleh para seniornya.

Menurut Maria, ibu korban, seperti dikutip dari liputan6.com, dari cerita teman-teman Hilarius, tradisi itu sudah berlangsung sejak tahun 2010. ” Tapi cuma baru anak saya yang sampai meninggal,” kata Maria. Anak saya diadu.

“Disuruh duel. Terus ditonton. Sedih mendengarnya, katanya pas anak saya dipukul itu ada yang tepuk-tepuk tangan” cerita Maria.
Kabar meninggalnya Hilarius diketahui Maria dan suaminya pada Jumat 29 Januari 2016 sekitar pukul 17.30 WIB setelah mendapat informasi dari pihak Rumah Sakit Azra.

Kasus kematian tersebut, kata Maria, diketahui pihak Polsek Bogor Utara beberapa hari setelah kejadian. Namun Maria tidak melapor secara resmi karena tidak mau jenazah anaknya diautopsi. Polisi pun merespons cerita Maria.

Makam kembali dibongkar

Polisi terus berusaha menguak kematian Hilarius. Selasa 19 September 2017 lalu, polisi pun membongkar lagi makam almarhum, setelah mendapat izin dari pihak keluarga.

Autopsi terhadap jenazah Hilarius dilakukan tim forensik Disaster Victim Identification (DVI) dan Bid Dokkes Polda Jabar, dibantu dokter Rumah Sakit Bhayangkara. Keluarga Hilarius turut menyaksikan proses autopsi yang dilakukan mulai pukul 08.00 WIB di tenda, tak jauh dari makam korban. Hasil autopsi menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Hilarius.

“Ada beberapa kelainan di organ dalam tubuh korban,” papar Spesialis Forensik Polda Jabar Kompol Dr M. Ihsan Wahyudi usai autopsi korban di TPU Perumda, Kota Bogor, Selasa (19/9/2017), tanpa membeberkan lebih rinci. Kesimpulan sementara menunjukkan, korban meninggal akibat kekerasan.

Melihat kejadian yang menewaskan Hilarius Christian Event Rahardjo akibat dipaksa duel ala gladiator, masyarakat harus lebih peka terhadap tindak bullying yang masih saja terjadi. Tindakan bullying dalam bentuk apapun tidak seharusnya mendapat tempat di tengah masyarakat yang beradab.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar