Sukses

Dokter Kariadi, Pahlawan yang Mengabdikan Hidup untuk Masyarakat

Mari kenali dokter Kariadi yang mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan warga Semarang.

Klikdokter.com, Jakarta Selain dikenal sebagai kota lumpia, Semarang juga merupakan satu kota yang mencatat sejarah pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Bicara soal Semarang dan perjuangan, maka tak lengkap tanpa mengulas satu nama, yaitu dokter Kariadi.

Seperti apa kisah dokter yang mengabdikan hidupnya untuk kesehatan dan keselamatan masyarakat itu?

Berdasarkan catatan sejarah dari berbagai sumber, dokter Kariadi gugur dalam sebuah perjuangan untuk menyelamatkan warga Semarang.

Saat itu, berembus kabar bahwa orang-orang Jepang yang kala itu menjajah telah meracuni sumber air minum warga Semarang. Dalam usahanya memastikan kebenaran itulah, dokter Kariadi tewas dibunuh pasukan Jepang.

Pena sejarah mencatat, pada 14 Oktober 1945, isu soal racun yang telah dilarutkan ke dalam sumber air minum warga Semarang itu beredar cepat. Mendengar hal tersebut, dokter Kariadi segera mengambil tindakan untuk membuktikan kebenaran dari berita yang tersebar di seluruh pelosok Semarang.

Di tengah situasi yang mencekam, dokter Kariadi pun berusaha menerobos Reservoir Siranda, sebuah bangunan yang menjadi tempat penampungan air di Semarang.

1 dari 3 halaman

Kariadi dan Pertempuran 5 Hari di Semarang

Dalam upaya membuktikan kebenaran isu tersebut, dokter Kariadi sempat mendapat tentangan dari pihak keluarga. Mengingat banyaknya kekacauan yang terjadi karena Jepang yang semakin terdesak, sang istri, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya itu pergi. Namun dokter Kariadi merasa wajib dan tetap bersikeras untuk mengecek, apakah sumber air minum itu masih aman dikonsumsi warga Semarang atau tidak.

Saat itu, dokter Kariadi memang tengah menjabat sebagai Kepala Laboratorium di Rumah Sakit Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara), yang pada zaman Hindia Belanda dikenal sebagai CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting). Pada hari itu, dokter Kariadi menerima telepon dari dari pimpinan Rumah Sakit Purusara terkait isu racun pada sumber air minum.

Saat itu suasana kota Semarang sangat mencekam, karena tentara Jepang bersiaga dan banyak melakukan serangan di beberapa titik, termasuk di sepanjang jalan menuju Reservoir Siranda. Namun keadaan tersebut sama sekali tidak menggoyahkan niat dokter Kariadi, yang menilai bahwa nyawa ribuan warga Semarang tengah dipertaruhkan.

Sayangnya, tentara Jepang kembali menjegal usaha dokter Kariadi. Pasukan bersenjata itu membunuh dr. Kariadi dan seorang Tentara Pelajar yang tengah bersamanya.

Gugurnya dokter Kariadi memicu kemarahan rakyat yang memang sedang terlibat konflik hebat dengan pasukan Jepang. Saat itulah pecah pertempuran 5 hari di Semarang, yang memakan korban sebanyak 2000 orang.

Pertempuran itu dimulai dengan aksi pemuda Indonesia yang memaksa tentara Jepang untuk menyerahkan senjata. Pada tanggal 14 Oktober 1945, Mayor Kido menolak mentah-mentah penyerahan senjata dan membuat para pemuda marah. Alhasil kekacauan semakin menjadi-jadi, dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri.

Pertempuran itu dimulai pada 15 Oktober 1945 dan berakhir hingga pada 20 Oktober 1945. Selain pejuang Indonesia, pertempuran itu juga menyebabkan 850 pasukan Jepang tumbang.

2 dari 3 halaman

Kariadi Masa Kini

Kariadi, seorang pahlawan yang lahir pada 1904 itu telah diabadikan menjadi nama rumah sakit terbesar dan terlengkap di kota Semarang. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi berdiri gagah di jalan Doktor Sutomo No.16, Randusari, Semarang Selatan.

Bangunan itu adalah rumah sakit yang sama dengan tempat dokter Kariadi mengabdikan diri sebagai seorang dokter. Didirikan pada zaman penjajahan Belanda tanggal 9 September 1925 dengan nama Centrale Buzgerlijke Ziekewsichting (CBZ), kemudian pada jaman penjajahan Jepang menjadi “Purusara” (Pusat Rumah Sakit Rakyat).

Semoga kisah dokter Kariadi dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia memberikan inspirasi besar bagi generasi muda Indonesia saat ini. Selamat Ulang Tahun Negaraku tercinta, Indonesia.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar