Sukses

Memulihkan Trauma Korban Penyanderaan di Angkot

Kasus penyanderaan di angkot mengejutkan banyak orang. Meski berhasil diselamatkan polisi, korban belum tentu terbebas dari trauma psikologi

Klikdokter.com, Jakarta Seorang ibu yang tengah menggendong balitanya disandera seorang pria di dalam angkot. Pelaku mengapit leher korban sambil menempelkan pisau ke leher korban. Pelaku penyanderaan di angkot sempat mengancam akan membunuh korban.

Akhirnya, pelaku berhasil dilumpuhkan lewat tembakan oleh anggota polisi berpakaian sipil. Peluru yang datang tiba-tiba tersebut bersarang di lengan pelaku. Korban pun selamat meski ada luka iris di leher dan tangan sang ibu.

Peristiwa mengerikan ini bisa saja menyebabkan trauma psikologis pada korban. Dalam dunia medis, trauma pada korban penyanderaan disebut juga dengan reaksi stres akut.

Reaksi stres akut bisa muncul selama satu bulan sejak korban mengalami kejadian traumatik. Sekitar 6- 33 persen korban diperkirakan dapat mengalami keadaan ini.

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi ini bisa berkepanjangan menjadi kelainan stres. Untuk mengatasi trauma yang dialami korban penyanderaan di angkot, diperlukan bantuan tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater.

Terapi bisa berupa wawancara medis, edukasi psikiatri (kejiwaan), terapi perilaku, hingga hipnoterapi. Selain itu jika dirasakan perlu, korban bisa menggunakan obat untuk membantu mengatasi rasa cemas, panik, dan gangguan lain.

Obat membuat korban menjadi lebih tenang dan nyaman. Namun, obat tersebut hanya dapat diberikan oleh psikiatri, bukan psikolog.

Dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan lingkungan sekitar juga sangat diperlukan untuk memulihkan korban. Dukungan moral, kasih sayang, dan intervensi agama juga dapat dilakukan sebagai bentuk terapi bagi korban penyanderaan di angkot.

[BA/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar