Sukses

Masih Banyak Anak Indonesia Alami Gizi Buruk

Kasus gizi buruk ternyata masih banyak ditemukan di Indonesia, Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Kementerian Kesehatan mencanangkan untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah minimal 3-4 porsi sayur dan 2-3 porsi buah setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan masih tingginya angka gizi buruk di Indonesia.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) saat ini gizi balita di Indonesia berada di bawah standar, yakni hanya sebesar 10%. Sementara penelitian lainnya menyebutkan bahwa 60- 85% anak sekolah usia 5- 12 tahun mengalami gizi buruk lantaran jarang mengonsumsi susu.

Pada tahun 2015, data Pemantauan Status Gizi (PSG) telah berhasil dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Ada sebanyak 496 kabupaten/ kotamadya dengan total 165.000 balita yang menjadi responden pemantauan.

Berikut Hasil PSG tahun 2015:

  • Status Gizi Balita menurut Indeks Berat Badan per Usia (BB/U), didapatkan hasil: 79,7% gizi baik; 14,9% gizi kurang; 3,8% gizi buruk, dan 1,5% gizi lebih.

  • Status Gizi Balita Menurut Indeks Tinggi Badan per Usia (TB/U), didapatkan hasil: 71% normal dan 29,9% Balita pendek dan sangat pendek.

  • Status Gizi Balita Menurut Indext Berat Badan per Tinggi Badan (BB/TB), didapatkan hasil,: 82,7% Normal, 8,2% kurus, 5,3% gemuk, dan 3,7% sangat kurus.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi gizi buruk adalah dengan memfokuskan perhatian pada kelompok 1000 hari pertama kehidupan. Mereka adalah wanita hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0- 23 bulan.

Ada beberapa hal yang dilakukan dalam upaya ini. Antara lain program imunisasi wajib, program ASI ekslusif, pemberikan makanan tambahan ibu hamil, pemberian makanan pendamping ASI serta program posyandu untuk membantu memantau tumbuh kembang anak.

Masalah gizi buruk dapat menimbulkan penyakit, kecacatan, dan kematian. Selain itu juga terdapat dampak jangka panjang bagi bangsa, yaitu kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Pada tahun 2015, masalah gizi buruk memang menunjukkan penurunan sebesar 3.8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sayangnya masalah ini masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Semoga di tahun- tahun yang akan datang masalah ini benar- benar bisa diatasi.

(DA/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar