Sukses

Budayakan Membiasakan yang Benar

Di sela kesibukannya dalam memimpin rumah sakit pusat rujukan nasional untuk penyakit jantung dan pembuluh darah, pagi itu dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K), FICA masih menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan Klikdokter. Pertemuan yang singkat, n

Di sela kesibukannya dalam memimpin rumah sakit pusat rujukan nasional untuk penyakit jantung dan pembuluh darah, pagi itu dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K), FICA masih menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan Klikdokter. Pertemuan yang singkat, namun meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Banyak hal yang dapat diteladani dari dokter yang tahun ini menginjak usia 56 tahun.

Awal mula beliau berkeinginan untuk berprofesi sebagai dokter saat masih kanak-kanak, karena terinspirasi oleh sosok seorang dokter yang tinggal di sebelah rumahnya. Sebagai anak tentara yang tinggal di perumahan tentara, beliau bertetangga dengan seorang dokter yang kala itu menjadi kepala rumah sakit Kesdam di Cijantung. Keinginan tersebut didukung juga oleh sang Ibu. Setelah akhirnya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau menjalani Inpres di era kepemimpinan Soeharto dan menjadi dokter di kecamatan sangat terpencil di Kalimantan Tengah selama 4 tahun. Dokter yang memiliki ingatan saat kuat ini merasa bangga dapat membantu masyarakat yang tak mampu di sana, bahkan sempat menjadi ketua KNPI dan hampir dicalonkan menjadi ketua DPRD. Namun diakuinya, pencapaian tersebut bukanlah tujuan utama. Beliau bertekad untuk membaktikan diri, karena saat itu biaya pendidikan murah, dan Pemerintah masih dapat mensubsidi pendidikan dokter. Beliau bahkan dapat menanggung sendiri biaya perkuliahannya dengan memberi les belajar kepada anak-anak SMA di sekitar rumahnya sembari tetap aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Bicara mengenai pendidikan di Indonesia saat ini, beliau menyayangkan sikap mahasiswa yang belakangan ini seringkali menyuarakan pendapat dengan tindakan anarkis.  Saat dulu menjadi Wakil Dekan FKUI yang membidangi kemahasiswaan, beliau memprakarsai lomba pemikiran kritis mahasiswa. Mahasiswa dilatih untuk mengkritisi pemerintah dengan sebuah pemikiran, bukan dengan melakukan tindakan anarkis di jalan. “Cara berpikir mahasiswa harus komprehensif, tidak boleh apriori. Mahasiswa harus mengkritisi pemerintah namun diikuti dengan solusi yang konstruktif, bukan dengan melakukan tindakan destruktif tanpa solusi.” demikian ujarnya. Beliau rasakan betul bagaimana sebagai mahasiswa harus belajar bertanggung jawab, berkontribusi kepada teman-teman maupun almamater.

Dalam mengemban jabatannya sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, beliau memegang prinsip memanusiakan pasien tanpa membeda-bedakan status. Saat ini RSJP Harapan Kita sudah memproses akreditasi JCI yang mengutamakan patient safety dengan kualitas pelayanan terakreditasi yang diakui oleh internasional. Namun ada 1 poin penting yang masih menjadi tantangan berat baginya. Yaitu mengubah budaya SDM rumah sakit, dari yang “membenarkan yang sudah biasa” menjadi “membiasakan yang benar”. Mulai dari pegawai administrasi, tenaga kesehatan seperti perawat, hingga dokter sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Salah satu sosok yang menjadi role model dalam kehidupan dokter yang pernah mengenyam pendidikan di Jepang ini adalah  Prof. Slamet Imam Santoso, alm. Saat berkomunikasi dengan sang Profesor yang pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor I di Universitas Indonesia ini, terasa  aura yang luar biasa, mulai dari tutur perkataan yang santun, cara bicara sistematis, cerdas dan begitu karismatik. Beliau merasa beruntung bisa berkomunikasi langsung dengan tokoh yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa terutama era 70-an, dengan keteguhannya dalam berpendirian yang berlandaskan kebenaran. Hal ini perlu diteladani, dan beliau menyarankan bagi mahasiswa saat ini untuk membaca tulisan Prof Slamet di berbagai buku-bukunya.  

Dokter yang memiliki hobi memasak ini membagi tipsnya untuk menjaga kesehatan, khususnya kardiovaskular. Menurutnya, ada 4 hal yang harus dihindari karena sangat merusak sel-sel dan pembuluh darah yaitu: merokok, hipertensi, diabetes, hiperkolesterol. Pasien yang gemuk umumnya lebih rentan mengalami diabetes dan hiperkolesterol. Oleh karena itu hal tersebut perlu dikontrol, begitu juga dengan tekanan darah. Beliau juga menyarankan untuk mengurangi makanan manis. Di usia beliau saat ini, sudah dirasa perlu baginya untuk melakukan tindakan pencegahan di antaranya dengan mengurangi gula dan mengkonsumsi gula rendah kalori meski beliau bukan penderita diabetes.

 

dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K)FICA

 

Dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K)FICA

Direktur Utama RS Harapan Kita

 

0 Komentar

Belum ada komentar