klikdokter.com
Sabtu, 26 Juli 2014

Preeklampsia dan Eklampsia Masih Kontributor AKI 2011

Klikdokter.com - Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih dikontribusi dari kasus preeklampsia dan eklampsia, AKI di Indonesia saat ini 228 per 100.000 kelahiran hidup. Jauh dengan Malaysia yang memiliki AKI hanya 31 per 100.000 kelahiran hidup. Membuat kondisi AKI di Indonesia kurang lebih sama dengan Myanmar yang kondisi negaranya jauh lebih miskin. Untuk kasus Myanmar dikaitkan dengan keadaan ekonomi yang rendah.

“Namun tidak melulu preeklampsia maupun eklampsia ini selalu dikaitkan dengan keadaan faktor ekonomi rendah, justru di Jakarta banyak juga ditemukan pada ibu hamil dari kelas sosial menengah dan keatas,” ujar dr. Irvan Adenin, SpOG. ketika mengisi acara Talkshow Mengenal Preeklampsia dan Eklampsia yang diselenggarakan oleh panitia gerakan Selamatkan Ibu di Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (10/11) lalu.

Walau penyebab dari preeklampsia masih belum diketahui secara jelas, keadaan sindrom gangguan preeklampsia pada ibu hamil dilatarbelakangi dengan kondisi tekanan darah tinggi. Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita pre-eklampsia, yang juga dapat disertai koma. Pre-eklampsia adalah salah satu ka­sus gangguan kehamilan yang bisa menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kelamilan, persalinan, dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi.

Hal senada diutarakan oleh ketua gerakan Selamatkan Ibu, dr. Nurhadi Rahman, SpOG. “Kira-kira diasumsikan AKI akibat preeklampsia dan eklampsia di Indonesia 9.1% dari 5juta kelahiran per tahun di Indonesia, dan ini harus sudah menjadi fokus keperhatian kita semua.” Preeklampsia dianggap sebagai "maladaptation syndrome" akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang mengakibatkan iskemia plasenta (ari–ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.

“Paling penting untuk menangani kasus ini adalah deteksi dini dan disiplin kontrol TD selama usia kehamilan,” tambah dr. Irvan Adenin yang biasa berpraktik di RSIA Tambak, Jakarta.  

Usaha pencegahan preklampsia dan eklampsia sudah lama dilakukan. Diantaranya dengan diet rendah garam dan kaya vitamin C. Selain itu, toxoperal (vitamin E,) beta caroten, minyak ikan (eicosapen tanoic acid), zink (seng), magnesium, diuretik, anti hipertensi, aspirin dosis rendah, dan kalium diyakini mampu mencegah terjadinya preklampsia dan eklampsia. Sayangnya upaya itu belum mewujudkan hasil yang menggembirakan. Belakangan juga diteliti manfaat penggunaan anti-oksidan seperti N. Acetyl Cystein yang diberikan bersama dengan vitamin A, B6, B12, C, E, dan berbagai mineral lainnya. Nampaknya, upaya itu dapat menurunkan angka kejadian pre-eklampsia pada kasus risiko tinggi.[](DA)



Jika ingin bertanya ke Dokter kami, Silahkan klik disini


 

Artikel Terkait
Artikel Terkait

JOIN MILIS

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Konsil Kedokteran Indonesia Departemen Kesehatan ILUNI FKGUI ILUNI FKUI Ikatan Dokter Indonesia Fiaksi Indonesia
Must Read close
Harapan Baru Pengidap TBC
FDA: Waspada Anti-Depresan Celexa
Relawan ACT Sudah Dievakuasi