klikdokter.com
Rabu, 20 Agustus 2014

Penggunaan Obat Rasional

Oleh : dr. Tri Rejeki Herdian

Setiap manusia di dalam kehidupannya kemungkinan besar pernah menderita sakit. Anak-anak, dewasa, maupun orangtua memiliki kebutuhan akan pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah obat-obatan. Berkunjung atau berkonsultasi ke dokter merupakan hal yang wajar apabila terdapat keluhan kesehatan mulai terasa mengganggu.

Namun saat ini pengertian akan konsultasi medis atau kunjungan ke dokter mengalami pergeseran menjadi kunjungan berobat atau pemberian obat. Pasien menuntut untuk diberikan obat setiap kali berkonsultasi ke dokter. Tidak jarang pula harapan pasien akan obat tersebut adalah kemanjurannya menyembuhkan penyakit dalam 1-2 kali minum. Padalah setiap penyakit memiliki waktunya sendiri-sendiri untuk masa penyembuhan.

Menurut kamus bahasa Indonesia, konsultasi medis adalah perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan untuk mencari penyebab terjadinya penyakit dan untuk menentukan cara-cara pengobatannya. Dalam kata lain konsultasi medis adalah sarana komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dimana tidak selalu KIE mengenai penyakit tersebut membutuhkan obat (tergantung penyakitnya) untuk sarana penyembuhan.

Jadi sejak kapan asumsi konsultasi medis menjadi sarana untuk memperoleh obat? Entah sejak kapan mulainya namun hal ini sudah berlangsung puluhan tahun tanpa ada yang sanggup untuk menghentikannya.

Penggunaan obat tidak rasional adalah masalah yang terjadi di seluruh dunia. WHO mengestimasikan sekitar lebih dari 50% obat yang diresepkan, dibagikan, dan dijual tidaklah tepat. Dan sekitar 50% pasien tidak mengonsumsi obat dalam aturan yang benar.

Menurut WHO, penggunaan obat berlebih, kurangnya dosis pengobatan, dan pemberian obat tidak pada tempatnya dapat mengakibatkan pemborosan sumber daya kesehatan, peningkatan resistensi kuman terhadap obat (untuk jenis antibiotika), dan meningkatkan gangguan kesehatan akibat dari efek samping obat.

Di Amerika Serikat, kematian akibat efek samping obat mencapai posisi ke-6 sebagai penyebab kematian terbanyak. Dalam sudut pandang keuangan, biaya akibat dari pemberian obat yang tidak perlu dan obat yang terlalu banyak, terutama di negara berkembang yang tidak memiliki asuransi kesehatan, sangatlah tinggi.

WHO mengadvokasikan 12 intervensi kunci untuk mempromosikan penggunaan obat yang lebih rasional:

  • Pembentukan badan nasional multidisiplin untuk mengkoordinasikan peraturan penggunaan obat
  • Penggunaan panduan klinis
  • Pengembangan dan penggunaan daftar obat esensial nasional
  • Pembentukan komite obat dan terapeutik di daerah dan rumah sakit
  • Memasukkan pelatihan farmakoterapi berbasis pemecahan masalah dalam kurikulum sarjana
  • Melanjutkan edukasi medis mencakup pelayanan sebagai persyaratan lisensi
  • Supervisi, audit, dan umpan balik
  • Penggunaan informasi independen mengenai obat
  • Edukasi publik mengenai obat
  • Hindari insentif finansial tanpa alasan
  • Penggunaan regulasi yang cocok dan diperkuat
  • Ekspenditur pemerintah yang cukup untuk memastikan adanya obat dan staff

Penelitian yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2000 memperlihatkan hasil bahwa sekitar 60% antibiotika yang tidak perlu diresepkan di Nigeria dan sekitar 50% di Nepal sehingga rata-rata pemberikan antibiotik tidak perlu di seluruh dunia mencapai angka 50%

Pengobatan esensial adalah pengobatan yang memenuhi prioritas kebutuhan pelayanan kesehatan dari populasi. Pengalaman membuktikan bahwa pemilihan pengobatan esensial yang tepat akan meningkatkan kualitas kesehatan lebih baik, penatalaksanaan pengobatan terbaik, peningkatan kualitas obat yang diberikan, serta biaya pengobatan yang lebih efektif.  Pengobatan secara rasional akan meningkatkan perbaikan sistim kesehatan dimana hal ini membutuhkan kerjasama berbagai pihak.

Perlukah Obat?
Batuk, pilek, demam, diare adalah keluhan sehari-hari yang membawa seorang pasien berobat ke dokter. Keluhan yang sebenarnya banyak disebakan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam beberapa hari tanpa obat ini merupakan gejala yang paling banyak mengalami polifarmasi dan penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya.

Sebagai contoh, rina terburu-buru membawa andi anaknya yang berumur 1 tahun karena batuk-pilek sejak kemarin. Ibu rina yang menemaninya sudah ribut menuntut anaknya untuk membawa andi ke dokter. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya rina bertemu dengan Dokter Spesialis Anak (DSA) andi. Rina menjelaskan bahwa andi mengalami batuk pilek, sedikit demam, dan tidak nafsu makan sejak kemarin. Rina meminta obat yang paling bagus agar anaknya cepat sembuh. Selesai memeriksa, DSA akhirnya memberikan 4 macam obat untuk andi, puyer campuran obat batuk-pilek dan alergi, obat demam, vitamin penambah nafsu makan, dan antibiotik, semua paten. Rina dan ibunya keluar dari kamar periksa dengan puas.

Perlukah semua obat tersebut dikonsumsi?
Pengambilan keputusan untuk pengobatan dipengaruhi beberapa hal seperti yang tertera pada bagan di bawah ini :

 

Sumber : purnamawati.wordpress.com

Diagnosa yang tepat akan mengarahkan pengobatan rasional sesuai petunjuk klinis. Pengobatan diberikan berdasarkan efektivitas, keamanan, biaya, dan kemudahan. Pengobatan akan dievaluasi dan akan didapatkan hasil serta kesimpulan dari terapi. Pola pengobatan tidak rasional adalah pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah pengobatan rasional. Contoh dari penggunaan obat irasional adalah :

  1. Polifarmasi atau pemberian obat terlalu banyak untuk jenis penyakit ringan
  2. Penggunaan antimikroba atau antibiotik tidak sesuai dengan tempatnya, tidak sesuai dosisnya, dan penggunaan antibiotik untuk infeksi non-bakteri (contoh penyakit karena virus yang sebenarnya adalah ‘self limiting disease’ atau dapat sembuh sendiri)
  3. Penggunaan pengobatan suntikan berlebih dimana sebenarnya pengobatan secara oral (diminum) dapat digunakan
  4. Tidak mengikuti terapi pengobatan sesuai dengan panduan klinis (guidelines)
  5. Pengobatan sendiri yang tidak tepat, umumnya untuk obat yang seharusnya dibeli dengan resep dokter, dan dikonsumsi dengan dosis yang tidak sesuai

American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menyarankan pemberian obat batuk pilek pada anak di bawah usia 2 tahun karena besarnya efek samping yang mungkin terjadi. Obat anti batuk tidak dianjurkan karena batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran pernapasan, termasuk diantaranya adalah dahak atau lendir. Kenyataannya, obat batuk-pilek belum terbukti sepenuhnya efektif untuk anak. Lebih berbahaya lagi, risiko terjadinya overdosis obat pada anak.

The Food and Drug Administration (FDA) menyarankan untuk tidak mengonsumsi obat batuk-pilek pada anak dengan usia kurang dari 2 tahun. Pemberian antibiotik pun umumnya tidak perlu karena batuk-pilek pada anak kebanyakan disebabkan oleh virus yang akan sembuh sendiri. Demam pada anak memiliki arti bahwa mekanisme tubuh anak sedang bekerja melawan kuman, apabila tidak terlalu tinggi, tidak perlu diberikan obat demam. Suplemen vitamin pun harus digunakan secara hati-hati karena vitamin tersebut dapat membebani kerja ginjal dan hati sehingga dapat mengganggu fungsi organ, menimbulkan gangguan pembekuan darah, dan keracunan vitamin. Suplemen pun belum tentu terbukti efektif meningkatkan nafsu makan.

Lalu apa obatnya?
Penanganan untuk keluhan karena virus adalah makan makanan bergizi, banyak minum, dan istirahat. Tubuh sebagai ciptaan mahasempurna dari Yang Kuasa memiliki mekanisme luar biasa untuk menghalau penyakit yang datang ke badan. Kekebalan tubuh yang ditunjang makanan bergizi dari luar pun membutuhkan waktu untuk bekerja sehingga tentunya kesabaran diperlukan sampai keluhannya membaik. Penyakit ringan memang akan terus terjadi karena itu adalah cara alami untuk melawan bakteri atau virus di dalam tubuh. Jadi janganlah cepat panik dan terburu-buru mengonsumsi obat apabila anda sakit. Meskipun obat berguna untuk kesehatan, namun apabila digunakan sembarangan maka akan merugikan kesehatan itu sendiri.

Polemik puyer
Puyer (powder) atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet atau kaplet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat. Lima puluh tahun yang lalu pembuatan obat dengan cara racikan ini dikerjakan pada 60% resep dokter, namun saat ini di luar negeri resep racikan ini turun hingga tinggal 1% .

Kontroversi penggunaan puyer saat ini timbul karena kekhawatiran bahwa puyer tidak sesuai dengan Penggunaan Obat Rasional, tidak steril, memiliki risiko dosis yang kurang tepat, reaksi campuran berbagai jenis obat, dan tidak sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik.

Menurut Prof.Dr. Iwan Darmansjah, Sp. Fk, puyer saat ini masih diresepkan di Indonesia karena memang tidak ada peraturan resmi yang melarangnya dan dokter diberi wewenang untuk melakukannya. Menurut beliau pengobatan rasional-lah yang paling diperlukan.

Prof dr Iwan Dwiprahasto MMedSc PhD, guru besar Fakultas Kedokteran UGM mengajak para profesional kesehatan untuk senantiasa mengacu pada bukti-bukti ilmiah terkini dengan tetap ‘up to date’ yang merupakan prasyarat fundamental dalam implementasi Evidence Based Medicine (EBM).

Polemik puyer yang beredar saat ini memang masih belum terlihat bagaimana ujungnya. Dari pemerintah sendiri hingga saat ini belum ada kebijakan khusus yang dikeluarkan untuk menyikapi masalah ini. Puyer yang dicap sebagai salah satu penggunaan obat yang tidak rasional memang menimbulkan berbagai kontroversi di masyarakat. 

Perdebatan tentang kontroversi penggunaan puyer yang sekarang terjadi dalam masyarakat disarankan untuk diselesaikan secara ilmiah. Perdebatan ilmiah harus disertai fakta ilmiah berdasarkan evidence based medicine untuk menentukan mengenai bahaya puyer dan menyatakan apakah puyer tersebut dapat tetap diresepkan atau tidak di Indonesia.

Be Smarter Be Healthier
Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dengan dosis yang sesuai, dalam periode waktu tertentu, dan dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Dr Purnamawati S Pujiarto, SpA(K), MMPed mengatakan bahwa pola pengobatan yang rasional bukanlah pengobatan yang tergopoh-gopoh mengobati gejala, melainkan mencari akar permasalahan.

Menurut dokter yang akrab disapa Wati ini pemberian obat berlebihan (polifarmasi) merupakan salah satu bentuk penggunaan obat irasional yang lazim ditemui. Dalam kasus tersebut biasanya pengobatan bersifat simtomatis atau pengobatan terhadap gejala, bukan pada sumber penyakit. Jadi apabila terdapat 4 gejala maka diberikanlah 4 jenis obat.

Pemberian obat tidak rasional ini pun dipengaruhi oleh berbagai pihak :

  • Dokter. Dokter yang kurang percaya diri mengenai pengobatan yang diberikannya, kurangnya pengetahuan berdasarkan panduan klinis (guidelines) mengenai tatalaksana penyakit, dan rasa ketakutan bahwa pasien akan berpindah ke dokter lain apabila obat yang diberikan tidak langsung menyembuhkan
  • Pasien. Pasien yang menuntut pemberian obat yang ‘mujarab’ dan langsung sembuh, terkadang juga meminta antibiotik untuk infeksi virus, serta protes apabila pulang konsultasi tidak diberi obat (umumnya meminta obat meskipun hanya vitamin). Obat yang diminta pun paten karena adanya pandangan semakin mahal obat semakin bagus obatnya sehingga obat generik yang murah tidak lagi dipercaya (belum tentu benar). Suatu produk yang berkualitas belum tentu mahal
  • Banyaknya obat yang beredar di pasaran. Obat dengan bahan aktif yang sama, misalnya ‘ranitidin’ saat ini mereknya beredar sekitar ratusan di pasaran. Banyak pula obat jenis ini yang termasuk di dalam ‘mee-too’ drugs. Banyaknya merek obat akan membuat seorang dokter bingung dan terkadang salah mengenali obat ‘mee-too’ yang terkadang harganya jauh di atas obat paten

Banyak faktor yang mempengaruhi pengobatan. Karena itulah diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk kembali merasionalisasikan pengobatan. Kita semua sebagai pasien saat ini pun sebaiknya memang lebih kritis mengenai diagnosa penyakit dan obat yang diberikan. Pergunakanlah hak pasien untuk bertanya dan memperoleh informasi mengenai gangguan kesehatan dan obat yang diresepkan.

Dibawah ini terdapat  beberapa tips untuk menghindari resep obat irasional:

  1. Pelajari penyakit-penyakit ‘harian’ seperti demam, batuk pilek, diare, dan sakit kepala. Biasakan browsing di internet dari situs yang tepercaya, seperti Mayoclinic, AAP, RCH, Kidshealth, CDC, WHO, BMJ, dan NEJM
  2. Ketika ke dokter, pahami, tujuannya adalah berkonsultasi, bukan sekadar meminta secarik resep. Berdiskusilah, mintalah diagnosis dalam bahasa medis sehingga bisa digunakan saat mencari informasi tambahan di internet atau sumber lain, mintalah penjelasan penyebab timbulnya masalah, diagnosis, dan rencana penanganannya
  3. Ketika diberi resep, hitung jumlah barisnya. Jika lebih dari dua, berhati-hatilah bahwa terdapat polifarmasi
  4. Tanyakan baris per baris obat ke dokter (dan farmasis), meliputi kandungan aktifnya, mekanisme kerja, indikasi, kontra indikasi, dan risiko efek samping
  5. Resep jangan langsung dibeli, cari informasi tambahan mengenai obat obatan yang diresepkan. Tidak perlu khawatir kondisi akan memburuk sebab apabila kita berada dalam kondisi gawat darurat, tentu akan langsung dirujuk rawat inap dengan berbagai intervensi segera
  6. Mintalah resep obat generik karena obat paten dengan harga mahal meskipun memiliki bahan dasar yang sama bukanlah jaminan bahwa obat tersebut lebih baik.[]


Jika ingin bertanya ke Dokter kami, Silahkan klik disini


 

Artikel Terkait
Artikel Terkait

JOIN MILIS

Masukkan e-mail untuk mendapatkan informasi terbaru dari klikdokter

Konsil Kedokteran Indonesia Departemen Kesehatan ILUNI FKGUI ILUNI FKUI Ikatan Dokter Indonesia Fiaksi Indonesia
Must Read close
Seksdukasi yang Benar Cegah Remaja dari PMS
Awas Penyakit Paru Obstruktif Kronik
Senam Hamil Aman Trimester Pertama