Opini Anda

"Masihkah Anda mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter yang tidak komunikatif ataupun memberikan pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan standar prosedur Praktik Kedokteran?"





  Ya   Tidak


Klik disini untuk mengganti kode  
Lihat Hasil
Pilih
Rumah Sakit
Masukkan Data Anda:
Berat Badan :    kg
Tinggi Badan :    cm

Topik Utama

Bookmark and Share

« Kembali

Terobosan Dunia Medis 2009: 5 in 1 Vaccine

Oleh : dr. Puti Naindra Alevia

Berapa kalikah suntikan imunisasi yang harus diterima buah hati Anda pada satu setengah tahun pertama hidupnya? Sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2008 ialah 9 kali suntikan imunisasi wajib (Program Pengembangan Imunisasi atau PPI). Belum lagi ada tambahan 10 suntikan imunisasi yang dianjurkan (Non-PPI). Seringkali orangtua harus menguatkan hati melihat bayinya menangis menahan sakit dari bertubi-tubi suntikan.

Di Indonesia dosis tersebut masih beruntung dapat diberikan dalam bentuk kombinasi. Kombinasi yang diberikan umumnya adalah gabungan vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis) dengan Hepatitis B, atau DPT dengan Hib (Haemophilus influenzae tipe B), yaitu 4 vaksin dalam 1 kali injeksi.

Antara tahun 2007 dan 2008, setelah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA), di Amerika Serikat diperkenalkan vaksin yang memberikan pertahanan tubuh terhadap 5 penyakit secara bersamaan – difteri, pertusis, tetanus, polio, dan Haemaphilus influenzae tipe B. Dengan kata lain vaksin ini merupakan combo DTP dan Hib atau Hepatitis B ditambah inactivated polio vaccine (IPV).

IPV adalah vaksin polio yang dibuat dari virus polio yang dimatikan dan diberikan dalam bentuk injeksi. Sebetulnya kombinasi 5 vaksin dalam satu injeksi ini sudah mulai dipergunakan di Inggris sejak tahun 2004 dan di Kanada sejak tahun 1998. Di Kanada, selama rentang waktu 5 tahun, telah diberikan 3,5 juta dosis vaksin ini. Di Indonesia pun vaksin ini sudah tersedia.

 

Lima vaksin diberikan secara bersamaan?

Apakah itu tidak berbahaya, Dok? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak anda. Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa pemberian vaksin-vaksin secara simultan atau kombinasi tidak meningkatkan tingkat keparahan efek samping yang biasa muncul setelah imunisasi.

Temuan ini diperkuat oleh studi yang melibatkan 5000 bayi yang mendapat vaksin 5-in-1 ini, dimana hanya ditemukan efek samping ringan setelah imunisasi, termasuk demam, kemerahan dan pembengkakan pada tempat injeksi.

Sedangkan efektivitas vaksin-vaksin tersebut sama saja jika diberikan sendiri-sendiri maupun secara simultan atau kombinasi. Karena itu, di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian vaksin ini.

 

Bermula dari Polio

Alasan dikembangkannya vaksin 5-in-1 ini berhubungan dengan polio. Sebelumnya, seperti di Indonesia, kombinasi vaksinasi yang digunakan adalah kombinasi 4-in-1, yaitu DPT dan Hib atau Hepatitis B, sedangkan vaksin polio diberikan dalam bentuk tetesan (diminum) atau Oral Polio Vaccine (OPV)  polio di negara-negara tersebut sekarang sangat kecil, karena program eradikasi yang efektif. Karena itu penggunaan OPV di sana mulai digantikan dengan IPV.

Bukan berarti OPV itu jelek, toh keberhasilan program eradikasi pada negara-negara Barat tersebut dicapai dengan menggunakan OPV. OPV dapat menimbulkan imunitas pada permukaan dalam usus yang merupakan tempat utama masuknya virus polio liar, sehingga sangat bermanfaat dalam mencegah infeksi virus polio liar dimana virus tersebut masih sering ditemukan (endemi).

Virus hidup dari vaksin tersebut kemudian dikeluarkan melalui tinja, sehingga jika tersebar di komunitas penerima vaksin, dapat memberikan imunitas terhadap polio bahkan pada individu yang tidak menerima vaksinasi secara langsung. Sedangkan, IPV tidak/sedikit menimbulkan imunitas pada permukaan dalam usus, sehingga seseorang yang mendapatkan vaksinasi IPV lebih mudah terinfeksi oleh virus polio liar. Jadi, IPV menjadi vaksin pilihan pada daerah tanpa virus polio liar.

Transisi OPV ke IPV

Pada akhirnya, jika sertifikasi bebas polio global telah dicapai, penggunaan OPV harus dihentikan, karena OPV juga memiliki kelemahan-kelemahan, antara lain: dapat menyebabkan kelumpuhan pada penerima vaksin (vaccine associated polio paralyses atau VAPP), ditularkannya virus hidup yang diekskresi lewat feses pada anak yang kontak dengan penerima vaksin (kontak VAPP), atau mutasi virus vaksin menjadi ganas karena sirkulasi virus yang lama di masyarakat (vaccine derived polio virus atau VDPV).

Mutasi virus menjadi ganas dapat menimbulkan outbreak kelumpuhan karena polio(paralytic poliomyelitis). Hal ini sudah terjadi di beberapa negara, termasuk di Indonesia (45 kasus di Madura dan 1 kasus di Bondowoso).

Penghentian imunisasi dengan OPV harus dilakukan saat kekebalan populasi cukup tinggi. Untuk mempertahankan status kekebalan populasi tetap tinggi, vaksinasi dengan OPV harus diganti dengan IPV, seperti yang sudah dilakukan oleh negara-negara barat.

 

Bagaimana dengan Indonesia?

Setelah selama 10 tahun Indonesia mengalami bebas polio, tiba-tiba pada bulan Maret 2005, dilaporkan adanya kasus polio di desa Girijaya, Jawa Barat. Penyebaran virus berlangsung cepat, Hingga akhir tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai 303 pada 10 propinsi dan 46 kasus VDPV. Setelah dilakukan upaya penguatan imunisasi rutin dan tambahan yang intensif, jumlah kasus polio liar menurun. Terakhir ditemukan kasus pada tahun 2006. Karena itu, Indonesia bersiap untuk melakukan penggantian vaksinasi OPV dengan IPV.

Penggunaan IPV di negara berkembang dan beriklim tropis masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penelitian mengenai penggunaan IPV di negara berkembang dengan iklim tropis perlu dilakukan untuk mengetahui segala kelebihan dan kekurangan penggunaan IPV di negara tersebut. Indonesia menjadi salah satu  tempat dilakukannya penelitian ini, yaitu di Jogjakarta. Karena itu, pemberian vaksin polio di Indonesia saat ini menggunakan kedua jenis vaksin (OPV dan IPV). Pemberian IPV secara luas masih sulit karena harganya yang mahal, sehingga saat ini hanya dapat didapatkan oleh kalangan menengah ke atas.[]

 


  Komentar Untuk "Terobosan Dunia Medis 2009: 5 in 1 Vaccine":

Norman Wiarsaputra & kartika Hardiyani, S.Ked, sekarang tinggal realisasinya saja, mungkin biaya yang dikeluarkan pemerintah akan lebih rendah, orangtua tidak repot, lebih nyaman buat anak... serius donk, katanya mau indonesia sehat 2010?!
, bagus dech, kapan bisa terealisasi
dr.Norjannah, bagus deh....mdh2an vaksin 5 in 1 dpt mulai dilaksanakan taon ini deh, masa kita ketinggalan terus.Dunia Kedokteran dah berkembang maju pesat kita malah condong ke hal2 yang diluar ilmu kedokteran spt fenomena PONARI
Melanie_00, ya tuch, biasalah, Indonesia kan udah terbiasa ketinggalan 20 tahun sama yg laen, sibuk ngurusin komisi proyek mulu. Mending kalo proyek sendiri, proyek orang.. memble
Francisca, problemnya apakah sudah tersedia secara luas di Indonesia??? selalu saja balik ke masalah ketersediaan bagi masyarakat umum.. terutama bagi rakyat yang kurang mampu
Nina , wah, enak nih bagi yang baru punya momonga, ga usah repot2 bolak balik vaksin lagi seperti saya dulu waktu anak2 masih kecil.. ya mudah2an bisa maju terus ya perkembangan teknologi kesehatan

Kirim Komentar:

Nama * :
Email * :
Komentar * :

Pencarian Khusus

Periode :
Kata Kunci :
   
 

LOGIN ANGGOTA

Username :
Password :
   
» Lupa Password ?
» Daftar
 

Amankah Berobat Ke Dokter Asing di Indonesia?


Walau dewasa ini marak pemberitaan malpraktik dan pelayanan kesehatan Indonesia tengah diterjang isu pasien tidak mampu versus
Baca Selengkapnya »

Berita Lainnya
Pilih Kategori:
  Masukkan Kata Kunci:
 
   

Link To : DEPKES I KKI I ILUNIFK I FKUI
Copyright © 2008 klik Dokter. All Rights Reserved.